Kamis, 11 Oktober 2007

RENUNGAN BULAN NOVEMBER 2007




MENUJU ISTIRAHAT ABADI

Seorang bapak memberikan kesaksian pada suatu upacara misa dan kremasi. Ia berkata, “Romo, saya sudah melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang di perbagai negeri. Saat ini, ketika kami melepaspergikan ayah yang sangat kami kasihi, tidak bisa tidak saya mengakui bahwa Katolik itu luar biasa. Tidak ada agama manapun seluar biasa Katolik yang sangat menghargai orang yang sudah meninggal. Upacara pemakaman Katolik sangat agung dan sungguh menghibur dan memberi pengharapan bahwa kehidupan abadi nan membahagiakan terbentang bagi kita semua.”
Demikianlah kesaksian seseorang yang menegaskan arti sesungguhnya kematian bagi kita orang Katolik. Bapak itu telah memahami arti kematian karena pengalaman hidupnya berjumpa dengan banyak kebiasaan dalam menghadapi kematian. Itu pulalah yang menjadi ajaran Gereja, bahwa kematian yang pasti dialami oleh setiap orang sesungguhnya bukan akhir dari kehidupan. Kita yang telah percaya pada Kristus tidak akan mati, sekalipun badan dan jiwa kita dipisahkan oleh maut. Dengan kematian, hidup kita hanya diubah. Dari kehidupan yang terikat dengan raga duniawi menjadi hidup dalam roh. Sekalipun mati, kita tetap hidup dalam keabadian.
Gereja Katolik tidak pernah menganggap orang yang sudah mati sebagai sesuatu yang tidak ada. Mereka tetap ada dan memiliki relasi dengan orang-orang terkasih yang masih hidup di dunia. Oleh karena itu, ada dalam kebiasaan Gereja Katolik praktek mendoakan arwah mereka yang sudah meninggal.
Ada banyak ungkapan yang lazim kita pakai dalam doa-doa untuk yang sudah meninggal, di antaranya adalah: mohon agar Tuhan memberi istirahat abadi di surga; mohon ketenteraman jiwa; mohon dosa-dosanya semasa hidupnya di dunia diampuni Tuhan; mohon diberi jalan yang lancar ke surga; mohon dibebaskan dari api pencucian; mohon tempat yang layak di sisi Bapa di surga; dan sebagainya. Semuanya itu benar dan baik, sebab itulah yang menjadi harapan kita semua, yakni hidup dalam keabadian bersama Yesus.
Renungan Harian JPIC Distrik Jakarta kali ini hadir kembali di hadapan Anda untuk mengajak berziarah bersama Gereja yang pada bulan November ini mengkhususkan diri mendoakan para arwah. Indulgensi, yaitu penghapusan denda hukuman dosa, dapat diperoleh secara penuh dengan mengunjungi makam dan/atau mendoakan arwah orang yang meninggal itu dari tgl. 1 sampai 8 November. Jika kegiatan itu dilaksanakan pada hari-hari lain sepanjang bulan November, indulgensi yang diperoleh hanya sebagian.
Betapa murah hati Gereja Katolik. Mari kita manfaatkan anugerah istimewa itu dengan sebaik-baiknya. Jalin dan binalah relasi baik kita dengan mereka yang sudah meninggal. Doakanlah mereka, kasihilah mereka sebab mereka juga hidup dalam hati dan kenangan kita.

Salam dan Berkah Tuhan untuk Anda Semua
Pengelola


Kamis, 1 November 2007
Hari Raya Semua Orang Kudus
Why 7: 2-4.9-14;1 Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a
===========================================================================

BERBAHAGIA YANG SUCI HATINYA

Hari ini kita merayakan pesta semua orang kudus. Mereka disebut kudus karena mereka telah masuk ke dalam Kerajaan Surga dan menikmati kebahagiaan bersama Tuhan. Surga dilukiskan oleh Yohanes sebagai suasana penuh kebahagiaan dan bebas dari penderitaan. Ia menulis: “Mereka tidak menderita lapar dan dahaga lagi. Matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka” (Why 7:16-17).
Hidup di hadirat Allah atau memandang wajah Allah merupakan tujuan hidup kita. Kita akan diubah menjadi serupa dengan Yesus, gambar Allah yang paling sempurna. Yohanes mengatakan: “Apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia” (1Yoh 3:2).
Supaya bisa menjadi serupa dengan Kristus dan bisa memandang wajah Allah hati kita harus suci, bersih dari dosa-dosa. Kata Yesus: ”Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah (Mat 5:1). Dosa-dosa menghalangi pertemuan kita dengan Allah. Yesus menyebut mereka yang suci hatinya berbahagia. AlasanNya, karena dengan hati yang murni mereka dapat memandang Allah dalam keadaan yang sebenarnya
Memandang wajah Allah adalah privilese dari anak-anak Allah. Kita mengambil bagian dalam hak keputraan Yesus yaitu ada bersama BapaNya. Itulah tujuan tertinggi dari seluruh hidup kita. Kita tidak diciptakan untuk berada di bumi selama-lamanya. Tidak! Kita tercipta untuk hidup dalam keabadian bersama Allah Tritunggal Mahakudus.
Pada hari ini, kita tidak hanya merayakan pesta semua orang Kudus yang sudah berada di surga. Kita juga merayakan eksistensi kita sebagai orang yang sedang dalam proses menjadi kudus. Mengapa? Kita semua dipanggil oleh Allah untuk menjadi kudus seperti Allah sendiri adalah kudus.

Marilah berdoa,
Ya Bapa yang mahakasih, kami bersyukur karena Engkau telah memilih para santo dan santa untuk menjadi teladan dan pedoa kami. Berikanklah kami karunia kesucian hati agar boleh memandang Engkau. Amin.


Jumat, 2 November 2007
Peringatan Arwah Semua Orang Beriman
2Kor 4:14-5:1; Luk 23:33.39-43
===========================================================================

TENDA ATAU RUMAH?

Kemah atau tenda adalah tempat bernaung sementara. Para pencinta alam biasa memakai tenda atau kemah untuk melindungi diri dari terik matahari, hujan dan angin. Mereka tidak pernah menetap sampai selamanya. Paling-paling mereka berkemah beberapa hari, lalu kembali ke rumah. Tenda tidak selalu abadi. Tenda itu mudah dipasang, tetapi juga mudah dibongkar. Bahan-bahannya pun sederhana, tidak permanent. Tenda itu mudah roboh karena angin yang kencang atau hujan lebat. Tinggal di tenda tidak senyaman tinggal di rumah sendiri. Semuanya bersifat sementara.
Beda sekali antara tenda dengan sebuah rumah. Rumah selalu dibangun di atas dasar yang kuat. Targetnya rumah dapat dipakai bertahun-tahun lamanya. Ya, bila perlu selamanya. Bila sudah mempunyai rumah, kita lebih senang menetap daripada berpindah-pindah. Ada kamar-kamar yang baik, tempat tidur, dll. Rumah adalah tempat dimana hati berada, kata peribahasa.
Santo Paulus mengatakan bahwa hidup kita di dunia ini adalah ibarat seorang pencinta alam atau gembala yang berkemah. Hidup kita di sini singkat. Setelah “menginap” atau berkemah sebentar di dunia ini, kita akan pindah ke tempat lain. Tenda kehidupan di dunia sini akan dibongkar. Tetapi Tuhan menyediakan sebuah rumah untuk kita. Yesus menyebut rumah itu Surga. Ia kadang menyebutnya “Rumah BapaKu”.
Surga, kata Paulus, tidak dibuat oleh tangan manusia. Artinya, bukan manusia yang membangunnya, tetapi Allah. Allah sendirilah yang menyediakan rumah itu. Surga bertahan sampai selama-lamanya. Hanya ada satu Surga, dan tidak ada yang lain. Surga yang akan kita huni tidak bisa dibongkar atau dipindahkan oleh siapa pun. Allah itu kekal adanya, maka rumah kediamanNya pun abadi. Di Surga tidak ada duka dan derita. Tangis pun tidak ada lagi. Yang ada hanyalah sukacita dan kebahagiaan kekal.
Mengapa Anda begitu sibuk membangun kemah-kemah hidup yang bersifat sementara?

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, berilah kami rakhmatMu agar kami merindukan rumah abadiMu. Amin.

Sabtu, 3 November 2007
Rm 11:1-2a. 11-12. 25-29
Luk 14: 1. 7-11
===========================================================================

MERENDAHKAN DIRI

Setiap individu merindukan penghargaan dan apresiasi dari orang lain yang ada disekitarnya. Dewasa ini ada kecenderungan orang berburu penghargaan dengan hal-hal yang kurang pantas, sehingga tampak seperti ada “gila hormat”. Orang berlomba untuk mencari penghormatan dan penghargaan dengan segala cara. Ketika hal itu tidak diraih maka yanga ada adalah stress dan frustrasi dan gila yang sesungguhnya.
Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda kepada para murid. Merendahkan diri dalam segala hal baik yang dilakukan. Tidak mengejar kehormatan dan penghargaan tetapi tekun dan setia melakukan kebajikan dan kebaikan. Jika hal itu sudah dilaksanakan secara tekun dan konsekwen secara langsung buahnya adalah penghargaan dan apresiasi baik dari orang lain. Penghormatan akan diberikan atas kebajikan yang kita lakukan, dan itu adalah buah dari perbuatan. Penghormatan dan penghargaan bukan tujuan tetapi buah dari karya dan perbuatan.
Merendahkan diri menuntut orang untuk sabar, tekun dan setia pada apa yang baik yang sedang dan akan dilaksanakan. Merendahkan diri bukan berarti minder atau rendah diri. Merendahkan diri adalah sebuah kearifan fan kebajikan dalam berelasi yang bersumber dari kematangan pribadi secara rohani dan sosial. Orang yang rendah hati tidak menuntut melainkan memberi dalam ketulusan, tidak kecewa bila diperlakukan tidak adil tetapi terbuka untuk memaafkan. Orang yang rendah hati akan memancarkan damai dan kasih dalah seluruh kehidupannya.
Bagaimana dengan kita? Yesus telah mengajarkan hal itu. Ia merendahkan dirinya sampai serendah-rendahnya dengan menjadi manusia sama seperti kita kecuali dalam hal dosa dan menderita sengsara dan wadat di salib. Apakah kita sudah sungguh meneladan kerendahan hati Yesus, atau kita hidup dalam keangkuhan, kesombongan dan gilla hormat? Orang dihargai bukan karena kehormatannya tetapi karena perbuatan kasihnya.

Marilah berdoa,
Ya Allah, kuatkan kami dalam mengamalkan kasih dan kebajikanMu,
Dan jadikan kami orang yang mampu merendahkan diri seperti Yesus.
Amin.

Minggu, 4 November 2007
Hari Minggu Biasa XXXI
Keb 11:22-12:2 ; 2Tes 1:11-2:2; Luk 19:1-10
===========================================================================

ZAKHEUS

Tokoh yang satu ini sungguh tidak asing lagi di telinga kita. Kisahnya dalam injil begitu sering kita dengar dan kita renungkan. Tetapi apa yang kemudian membuat tokoh ini menarik untuk direnungkan. Apakah karena kekayaan dan jabatannya atau karena badannya yang gemuk dan pendek? Yang manarik adalah kerinduannya yang luar biasa untuk bertemu dengan Yesus dan pertobatannya setelah berjumpa dengan Yesus.
Zakheus adalah gambaran orang berdosa yang menerima belaskasih dan kerahiman Allah yang menghatarnya pada pertobatan. Perjumpaannya dengan Yesus mengubah seluruh hidupNya dan juga pandangan orang Yahudi. Yesus menunjukkan misi perutusannya dalam diri Zakhesus. Yesus datang bukan untuk mencari dan menyelamatkan orang benar melainkan untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa seperti Zakheus.
Zakheus menerima perlakuan tidak adil dari orang-orang sebangsanya karena pekerjaan dan jabatannya, sehingga ia di cap sebagai penghianat bangsa dan orang berdosa sehingga Yesus pun dianggap oleh orang Yahudi tidak layak untuk berkunjung ke rumahnya. Orang Yahudi berpangangan bahwa Zakheus tidak layak menerima anugerah keselamatan dalam pertobatan dan layak untuk menerima hukuman. Tapi kasih Allah mengatasi sungut-sungut orang Yahudi dalam diri Yesus yang mempertobatkan dan menyelamatkan Zakheus.
Ditengah kehidupan harian kita ada banyak orang seperti Zakheus, diperlakukan seperti Zakheus. Perlakuan itu justru datang dari kita yang merasa diri suci, kudus dan dekat dengan Allah dalam segala aktivitas kerohanian kita. Sehingga kita merasa bahwa hanya kita yang layak menerima kunjungan Yesus dan diselamatkan. Kita menghakimi dan mengucilkan orang-orang seperti Zakheus. Padalah Yesus sudah memeberi contoh dan teladan bahwa kita harus datang kepada mereka dan menuntun mereka kepada pertobatan dan keselamatan.
Bagaimana dengan kita saat ini, apakah kita sama seperti orang Yahudi yang suka menghakimi dan mengadili orang berdosa dengan segala sungut-sungut dan keangkuhan rohani kita? Atau sudahkan kita seperti Yesus menuntun orang berdosa kepada pertobatan dan keselamatan?

Marilah berdoa,
Ya Allah, buatlah kami mampu menghantar dan menuntun kembali saudara-saudari kami
yang hidup dalam dosa dan bahaya maut.
Amin.


Senin, 5 November 2007
Rm 11:29-36
Luk 14:12-14
===========================================================================

UNDANGAN PESTA


Musim adalah suatu waktu tertentu di mana sesuatu ada atau terjadi lebih banyak dan lebih sering dari hari-hari biasa. Ketika banyak buah mangga di pasaran, kita katakan sekarang musim mangga. Atau saat hujan sering terjadi, kita namakan musim hujan.
Dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat ada pula yang disebut musim pesta. Dalam bulan tertentu banyak orang mengundang pesta, entah itu pesta nikah, sunatan atau pesta dengan intensi yang lain. Tentu saja bagi banyak keluarga, musim pesta tersebut berarti pula tambahan pengeluaran, sebab menghadiri pesta berarti juga harus memberikan kado atau amplop sumbangan.
Banyak di antara kita direpotkan ketika diundang pesta. Selain harus memikirkan bingkisan dan sejumlah uang, kadang kita juga harus memikirkan busana pesta yang akan kita kenakan. Kita tak mau mengecewakan orang yang telah mengundang kita. Dan keinginan untuk tampil prima, glamour dan pantas itulah yang seringkali merepotkan kita.
Pesta adalah suatu bentuk perjumpaan sosial setua usia manusia. Aneka tradisi dan kebudayaan memiliki nilai dan karakteristik pesta yang berbeda satu sama lain. Pesta di Afrika misalnya, selalu diwarnai dengan tari-tarian dan tetabuhan gendang. Sementara pada kebudayaan lain pesta diwarnai dengan musik dan dansa lembut. Yang relatif sama dari pelbagai macam jenis pesta adalah adanya makanan berlimpah. Kenyataan ini hampir tak terbantahkan. Pesta pasti identik dengan makan berlimpah.
Orang mengundang pesta sama artinya mengundang orang lain untuk makan. Tindakan mengundang pesta adalah sesuatu yang sangat baik. Bagi Yesus, tindakan yang baik itu dinilai tidak baik kalau di balik undangan itu ada keinginan untuk mendapat balasan. Saya mengundang pesta supaya saya pun diundang pesta.
Motivasi semacam itu bagi Yesus tidak tepat, sebab tindakan dan perbuatan baik bukanlah komoditas yang bisa dipertukarkan. Perbuatan baik semestinya terbebas dari keinginan agar orang lain juga melakukan yang baik bagi kita. Dalam tataran nilai manusiawi balas-membalas perbuatan baik adalah hal yang lumrah sekali.
Tetapi tataran nilai Kerajaan Allah yang ditawarkan Yesus melebihi nilai manusiawi. Menjadi murid Yesus harus rela melakukan perbuatan baik tanpa berharap balasan dari orang lain. Kongkretnya, kalau hendak mengadakan pesta, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Kita akan merasakan kebahagiaan, bukan karena mereka miskin. Kita berbahagia karena dengan demikian kita dibebaskan dari hasrat menerima pembalasan perbuatan baik dari mereka yang kita undang. Dalam hal ini, ada suatu nilai yang lebih tinggi yakni pembalasan Tuhan pada hari kebangkitan orang-orang benar. Pembalasan Tuhan adalah lebih bernilai daripada pembalasan manusia. Jadi, prioritaskan nilai-nilai surgawi dari Tuhan dalam setiap perbuatan baik yang kita lakukan.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga kami dibersihkan dari motivasi mendapatkan penghargaan dari dunia ini. Amin.

Selasa, 6 November 2007
Rm 12:5-16a
Luk 14:15-24
===========================================================================

UNDANGAN ISTIMEWA

Masih dalam konteks pesta perjamuan, perumpamaan yang disampaikan Yesus kali ini berkaitan dengan dalih atau alasan untuk tidak menghadiri pesta. Undangan merupakan satu hal sangat penting diperhatikan kalau kita mengadakan pesta.
Saya pernah mendengar sebuah Event Ornganizer (EO) berpromo di sebuah radio. Salah satu tip yang diberikan untuk pendengar adalah hal menyiapkan undangan. Dinasihatkan oleh EO tersebut agar daftar orang-orang yang akan diundang pesta disiapkan jauh-jauh hari. Lagipula nama dan alamat orang yang akan diundang harus ditulis dengan benar, kalau perlu dengan gelar dan jabatan. Sedapat mungkin tidak boleh salah dalam menuliskan nama dan alamat yang akan diundang, karena kalau salah ada kemungkinan orang tersebut tidak mau datang. Ada banyak orang yang cukup sensitif berkaitan dengan penulisan nama diri. Bahkan ada orang yang tak mau menerima undangan pesta hanya karena ada kesalahan eja dalam penulisan nama dan alamat, meski sebenarnya orang yang dimaksud tidak salah.
Tentu, orang yang diundang pesta adalah orang istimewa bagi pembuat pesta. Dalam prakteknya, daftar orang yang diundang pesta memiliki kategori tertentu. List yang paling atas biasanya bersifat Very Very Importan Person (VVIP), kemudian VIP dan seterusnya yang biasa-biasa saja atau kelas ekonomi. Dan tak dapat disangkal, undangan yang selalu rewel biasanya justru adalah yang termasuk kategori VVIP dan VIP.
Orang-orang yang merasa diri masuk dalam kategori VVIP atau VIP selalu menuntut macam-macam, termasuk merasa leluasa terlambat ikut acara atau pesta. Bahkan ia juga bisa merasa tak bersalah atau biasa saja kalau tidak datang pada moment pesta itu.
Perumpamaan tentang undangan yang berdalih dengan rupa-rupa alasan untuk tidak hadir dalam pesta yang diajarkan oleh Yesus berkaitan dengan sikap arogan dan ketidakpedulian orang-orang merasa dalam kategori VVIP dan VIP. Bagi mereka pesta perjamuan yang diadakan oleh tuan pesta tidak lah lebih penting daripada urusan dan bisnis mereka sehari-hari: melihat ladang yang baru dibeli, mencoba lima pasang lembu kebiri yang baru saja dibeli dan juga urusan kesenangan diri karena baru saja kawin. Karena pesta itu mengganggu acara bisnis dan kesenangan diri, mereka tidak mau datang.
Orang-orang yang berdalih itu sebenarnya diistimewakan oleh tuan pesta. Sama halnya bangsa Israel adalah orang-orang VIP dan istimewa. Mereka ditempatkan sebagai prioritas pertama dalam sejarah keselamatan yang ditawarkan Allah. Tapi karena mereka terang-terangan tak mau menerima undangan itu, maka Allah sebagai tuan pesta membuka pintu perjamuanNya bagi bangsa-bangsa lain yang tidak diprioritaskan. Ruang perjamuan Allah harus penuh, itulah program dan rencana Allah. Maukah kita datang dan menjawab undangan Allah dalam pestaNya? Tanggalkanlah egoisme dan mentalitas VVIP kita, maka kita akan suka cita menjawabi undangan pestaNya.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga kami boleh menghadiri pesta perjamuanMu. Bantulah kami menanggalkan egoisme dan kecenderungan memperhatikan urusan kami sendiri. Amin.

Rabu, 7 November 2007
Rm 13:8-10
Luk 14:25-33
===========================================================================

PERTIMBANGAN SEBELUM MENGAMBIL KEPUTUSAN

Pertimbangan matang sangat dibutuhkan untuk mengambil keputusan penting dalam hidup. Bagaimana cara mewujudkan keputusan itu dan juga efek dan akibat-akibat yang akan ditimbulkan oleh terjadinya keputusan itu harus dipikirkan matang-matang. Antisipasi merupakan tindakan yang perlu dibuat untuk menghadapi suatu keputusan. Salah-salah mengambil keputusan, hidup akan berubah total; mungkin lebih baik, atau justru makin terpuruk.
Keputusan mengikuti Yesus adalah tindakan serius. Orang yang mengambil keputusan mengikuti Yesus dan sanggup memikul salibNya harus siap berhadapan dengan totalitas. Ungkapan yang dipakai Yesus untuk menggambarkan situasi mengikuti diriNya sangat keras: “Barangsiapa tidak membenci ibu-bapanya, istri, anak-anak serta saudara-saudaranya, bahkan nyawanya sendiri tidak dapat menjadi muridKu.”
Kata “benci” adalah simbol sebuah jarak. Yang dimaksud oleh Yesus adalah prasyarat tidak terikat dengan orang-orang terdekat, sebab mengikuti Dia harus dengan totalitas. Oleh karena itu adalah suatu hal yang wajar kalau sebelum mengambil keputusan menjadi murid Kristus itu harus dipertimbangkan sungguh-sungguh. Kita harus juga melihat kemampuan diri kita sendiri, sama seperti seorang raja yang hendak memutuskan berperang atau tidak. Atau sama halnya dengan orang yang berencana membangun rumah.
Apakah kita memiliki kemampuan yang sepadan dengan resiko-resiko yang akan kita hadapi? Banyak kali terjadi kita menjadi kecewa karena sesuatu yang kita harapkan tidak terwujud. Mungkin kita mempersalahkan faktor-faktor lain di luar diri kita sebagai penentu kegagalan kita. Tetapi benarkah demikian? Bisa jadi kekurangan dan ketaksanggupan di dalam diri kita memberikan kontribusi terhadap kegagalan yang kita alami itu. Semestinyalah kita bertanya ke dalam diri sendiri, mungkin ada sesuatu dalam diri kita yang memang tak memenuhi syarat untuk mewujudkan rencana kita tersebut.
Jangan sampai kita dianggap orang sebagai orang yang hanya memiliki napsu kuat, tenaga loyo. Lakukan analisis kemampuan diri, pemetaan diri dan ambillah keputusan penting dalam hidup ini dengan semakin banyak informasi diri sebagai back up cita-cita kita. Kebahagiaan kita ditentukan oleh kemampuan kita mewujudkan suatu harapan yang kita inginkan. Janganlah kita menyiksa diri melakukan sesuatu yang tak sanggup kita laksanakan.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan berilah kami kerendahan hati untuk melihat kekurangan dan kemampuan diri kami untuk mencapai sesuatu yang berharga bagiku dan bagiMu. Amin.








Kamis, 8 November 2007
Rm 14:7-12
Luk 15:1-10
===========================================================================

BERSUKACITALAH BERSAMA-SAMA AKU

Menjelang hari raya lebaran, kita mendengar banyak kasus kejahatan pencurian. Pada saat-saat seperti itu kita tak bisa membiarkan barang berharga tergeletak menganggur, sebab mata banyak orang sangat peka untuk mengambil sesuatu yang secara cepat dapat dijadikan uang. Ketika terjadi pencurian barang berharga karena ketakwaspadaan, kita menjadi terpukul. Apalagi kalau barang yang dicuri itu adalah sesuatu yang sangat penting, misalnya handphone atau laptop.
Pernah terjadi di suatu sudut rumah, penghuni rumah mendapati laptopnya tergeletak. Padahal seharusnya laptop itu ada di dalam kamar. Rupanya laptop itu hendak dicuri, tapi entah kenapa si pencuri menyimpannya di situ untuk menunggu waktu yang tepat supaya dapat dibawa lari. Mungkin juga si pencuri kepergok orang lain dan kesiangan.
Pemilik rumah itu bersyukur bahwa laptop yang hendak dicuri itu tak jadi hilang. Semua data informasi penting yang dia miliki tak jadi lenyap. Hanya satu yang menggelisahkan hatinya, siapakah pencuri itu? Pastilah si pencuri itu bukan orang yang asing dengan rumahnya. Ia menjadi penasaran sekali tapi juga tak dapat serta-merta menuduh orang-orang di rumahnya itu tanpa bukti. Hanya untuk mengetahui siapa yang mencoba mencuri itu, si pemilik rumah berusaha keras mencari “orang pintar”; meminta petunjuk siapakah pencuri laptop itu.
Barang berharga yang telah ditemukan, ternyata tidak membuat pemilik rumah itu bahagia. Justru sebaliknya ia menjadi begitu penasaran dan penuh tanda tanya yang menyiksa batin untuk mengetahui dengan pasti pencuri yang gagal mengambil barang berharga. Perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus tentang domba yang hilang; dirham yang terselip; yang akhirnya ditemukan hendak menyampaikan suatu pesan singkat. Jangan kita terlalu repot mencari-cari kesalahan orang lain. Bahwa kita mendapati kembalinya barang berharga yang sangat kita butuhkan, seharusnya itu yang harus sangat disyukuri.
Apakah kita sudah memiliki rasa syukur seperti yang ditunjukkan gembala yang kehilangan domba dan wanita yang kehilangan dirham itu? Jika kita kehilangan barang, entah karena kelalaian kita ataupun karena diambil orang lain; hal kembalinya barang berharga itulah yang harus menjadi fokus syukur kita. Hendaknya kita dapat meniru perumpamaan Injil: “Bersukacitalah bersama-sama aku, sebab barang berhargaku yang hilang itu telah kutemukan.”

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga kami tidak tergoda untuk mencari-cari kesalahan orang lain, tapi senantiasa bersyukur atas ditemukannya harta mutiara kami yang hilang. Amin.

Jumat, 9 November 2007
Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
Yeh.47: 1-2.8-9.12; 1 Kor.3:9b-11.16-17; Yoh 2: 13-22
===========================================================================

YESUS BISA MARAH, MENGAPA TIDAK?

Seorang pastor pernah membikin umatnya terperangah. Pastor itu sudah di altar untuk memulai perayaan ekaristi. Dari altar dia meminta umatnya mengikuti perayaan ekaristi dengan tenang dan khidmat. Menyaksikan banyak umat datang terlambat, tidak tertib masuk gereja, lalu lalang dalam gereja sambil ngobrol, Pastor itu mendadak menghentikan misa langsung sesudah Doa Pembukaan dan kembali ke sakristi. Umat yang ditinggalkan dalam gereja terperangah. Kusuk-kasak dalam gereja tak terhindarkan. Ada umat yang bertanya keheranan ‘ada apa? Apa Pastor kita sakit? Ada pula umat yang karena sebal berucap: ‘Mungkin Pastor kita sudah gila,ya! Sudah keterlaluan,coba bersabarlah dengan kami yang bodoh-bodoh ini!’
Bukan rahasia lagi suasana tenang dan khidmat pada saat merayakan ekaristi agak merosot. Umat yang sudah lebih dahulu ke gereja tidak bisa mengikuti perayaan dengan khuzuk karena ada saja umat yang datangnya terlambat. Lebih parah lagi ada anak-anak muda suka ngobrol selama perayaan berlangsung. Cara umat berpakaian yang kurang senonoh juga mengusik kekhidmatan suasana perayaan.
Tindakan Pastor yang secara mendadak menghentikan misa tentu mengecewakan umat yang sudah datang pada waktunya. Hanya segelintir umat yang datang terlambat dan kurang menunjukkan sikap hormat di saat berlangsungnya perayaan. Tetapi ternyata tindakan Pastor itu telah membawa dampak yang menggembirakan. Dalam kesempatan perayaan ekaristi pada hari-hari minggu sesudahnya nampak sekali umat semakin sadar: datang pada waktunya dan mengikuti perayaan dengan khidmat.
Tindakan Yesus mengobrak-abrik tempat jualan para pedagang di pelataran bait Allah dan menghalau mereka dengan cemeti sungguh menggemparkan. Para pedagang lari tunggang langgang ketakutan. Biar mereka kapok. Yesus sungguh marah, mengapa tidak!? Yesus dengan gigih membela kekudusan Bait Allah. Bait Allah rumah BapaNya, tidak boleh menjadi tempat berjualan atau sarang penyamun. Bait Allah adalah tempat suci, tempat manusia berjumpa dengan Allah Sang Penciptanya.
Bagaimana tanggapan anda terhadap tindakan Yesus? Yesus minta anda segera menghentikan kebiasaan datang terlambat ke gereja. Anda ke gereja untuk berjumpa dengan Tuhan. Jangan suka ngobrol dengan teman di saat perayaan berlangsung. Ikutlah perayaan ekaristi dengan khidmat. Dari rumah kenakanlah pakaian yang senonoh. Ingatlah: tubuh anda dari ujung kaki sampai ujung rambut adalah tempat kediaman Roh Kudus. Pakaian yang kurang senonoh dapat merendahkan martabat anda dan membangkit-bangkitkan selera tak senonoh dalam diri sesama umat yang memandangnya.

Marilah berdoa,
Tuhan Yesus, ampunilah saya. Saya sering suka terlambat ke gerej, suka ngobrol di gereja. Sering pula mengenakan pakaian yang kurang senonoh. Saya bertobat dan tidak mengulanginya lagi. Amin.


Sabtu, 10 November 2007
PW. St. Leo Agung, Paus Pujangga Gereja
Rom. 16: 3-9.16.22-27; Luk 16: 9-15
===========================================================================

WEJANGAN YANG MENOHOK DAYA JUANG DAN HARGA DIRI

Saudara-saudariku terkasih, sebagai putera-puteri kesayangan Allah Bapa dan sahabat-sahabat pilihan Tuhan Yesus, kita wajib berdoa untuk semua orang termasuk para koruptor. Doa untuk para koruptor, misalnya sebagai berikut: “Ya, Allah Sang Pencipta yang mahakuasa, para koruptor juga telah Kauciptakan menurut citraMu. Engkau begitu baik. Engkau tidak punya niat sedikitpun untuk mencabut atau menghapus citraMu itu dari diri mereka. CitraMu itu nampak antara lain dalam bentuk daya juang mereka yang gigih untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Kepandaian dan kecerdikan yang mereka miliki, mereka tidak sia-siakan; kami mohon agar kepandaian dan kecerdikan mereka, juga dapat mendatangkan berkat dan kesejahteraan bagi orang-orang miskin.
Wejangan Yesus dalam Injil hari ini bermuatan beberapa pesan penting yang harus diperhatikan baik oleh murid-muridNya maupun oleh orang-orang Farisi yang telanjur memiliki atau menghayati pandangan keliru tentang kekayaan atau Mamon. Kekayaan atau Mamon yang dimiliki oleh orang-orang kaya termasuk oleh orang-orang Farisi merupakan kenyataan yang memang harus diakui keberadaannya. Kekayaan atau Mamon itu baik yang diperoleh secara halal/jujur maupun dengan cara yang tidak jujur (korupsi) sesungguhnya bermanfaat untuk kesejahteraan manusia. Yesus sendiri bahkan menyuruh orang-orang yang mendapatnya dengan mengatakan : “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi”. Suruhan ini kiranya menunjukkan bahwa Yesus sama sekali tidak membenci kekayaan atau Mamon betapapun diperoleh dengan cara tidak jujur.
Apakah dengan itu Yesus membenarkan kita untuk ikut-ikutan mencari kekayaan atau Mamon dengan cara yang tidak jujur? Sama sekali tidak! Tetapi Yesus tetap menuntut agar kekayaan atau Mamon yang telanjur diperoleh dengan cara yang tidak jujur wajib dibagi-bagikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya, misalnya untuk menolong anak-anak yatim piatu, para janda, lansia, yayasan sosial atau lembaga-lembaga pendidikan untuk memajukan warga masyarakat yang tertinggal.
Sebagai murid-muridNya Yesus menuntut kita untuk setiap saat bertindak jujur dan setia mulai dengan hal-hal kecil. Untuk memperoleh sesuatu betapapun nilainya kecil, dituntut kerja keras dan daya juang. Selalu siap memberikan tanggung jawab secara benar dan jujur atas segala sesuatu yang kita peroleh. Kekayaan yang kita peroleh secara jujur, hasil kerja keras/daya juang tidak boleh ditumpuk-tumpukkan untuk kesenangan dan kebanggaan pribadi atau demi harga diri sampai melupakan Tuhan pemberi segala anugerah. Semuanya itu hendaknya dilihat dengan mata iman sebagai anugerah dari Tuhan yang harus selalu disyukuri dan dengan ikhlas dimanfaatkan untuk kesejahteraan banyak orang.



Marilah berdoa,
Tuhan Yesus, doaku singkat saja. Jauhkan saya dari ancaman cengkeraman Mamon yang mencelakakan kesetiaanku kepadaMu. Amin.

Minggu, 11 November 2007
Pekan Biasa XXXII
2Mak 7:1-2. 9-14; 2Tes 2:16 – 3:5; Luk 20:27-38
===========================================================================

KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

Setiap orang menjalani kehidupannya menurut keyakinannya sendiri. Seorang pengikut Kristus juga menjalani kehidupannya dengan mencampurkan pemahaman Kristiani dengan pemahaman dan daya tangkapnya masing-masing. Belum ada orang yang bisa mengikuti Kristus dengan sama persis dan itu tidak akan pernah ada. Demikianpun halnya dengan kehidupan setelah kematian. Setiap orang memiliki pemahaman tersendiri walaupun ada ajaran yang disampaikan untuk banyak orang. Ajaran yang sama, diterima secara berbeda.
Ada berbagai cerita orang tentang kehidupan setelah kematian. Ada beragam gambaran tentang adanya imbalan, ganjaran dan hukuman. Tetapi ada juga orang yang mengakui bahwa kehidupan hanya terjadi saat ini, di sini. Itulah sebabnya banyak orang dengan tanpa sadar berusaha menikmati hidup yang sekarang ini dengan slogan “hidup cuma sekali. Kalau tidak dinikmati sekarang, kapan lagi?”
Orang-orang Saduki juga memiliki paham seperti itu. Hidup hanya ada di tempat ini. Tidak ada kebangkitan. Namun Yesus membantah pengertian itu. Yesus, manusia yang berasal dari kehidupan kekal, mengajarkan bahwa ada hukum ganjaran dan pembalasan. Jiwa yang berasal dari Allah, tidak dapat mati. Jiwa hanya dapat mengalami kehidupan sesuai dengan hukum kehidupan Allah sendiri. Maka gambaran surga yang dipenuhi dengan malaikat, diwarnai sukacita, atau gambaran tentang neraka yang diwarnai dengan hukuman dan api yang menyiksa, mungkin baru salah satu gambaran tentang kehidupan setelah kematian. Bagaimanapun juga, setiap agama menyadari bahwa jiwa akan tetap hidup, entah hidup untuk menderita karena dihukum atau hidup kekal dalam bahagia. “Kalian benar-benar sesat,” itulah teguran Yesus terhadap mereka yang berusaha menafsirkan kehidupan setelah kematian. Yang perlu dipahami adalah adanya kehidupan setelah kematian badani, dan bahwa kehidupan setelah kematian amat berbeda dengan kehidupan dalam dunia badan. Kebahagiaan dalam alam setelah kematian amat berbeda dengan kebahagiaan dalam dunia badan. Kehidupan bahagia itu hanya bisa dikatakan dengan istilah “visio beatifica”.. bahagia karena memandang wajah Allah secara kekal, bersatu dengan kehidupan Ilahi secara kekal. Itulah kebahagiaan yang tak terlukiskan dalam alam hidup insani.

Marilah berdoa,
Ya Yesus, semoga aku berusaha meraih kehidupan bahagia kekal bersamaMu. Memandang wajah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, tempat jiwaku hidup kekal.
Amin.

Senin, 12 November 2007
Pw. S. Yosafat, Uskup dan Martir
Keb 1:1-7; Luk 17:1-6
===========================================================================

MEMANFAATKAN KETIDAKTAHUAN

Menipu orang bodoh amat mudah. Orang yang tidak banyak tahu bisa dikelabui dengan berbagai macam hal. Demi sebuah kepentingan, selembar kertas kosong dapat ditandatangani orang yang tidak berpikir lebih jauh. Hal seperti itu kerap terjadi di tengah bangsa ini. Karena tidak tahu, atau tidak mau repot, banyak orang mengalami kerugian yang seharusnya tidak mereka alami. Sialnya, banyak orang pintar yang memanfaatkan ketidaktahuan orang-orang tertentu demi mendapat keuntungan bagi dirinya sendiri.
Kemampuan bersilat kata, kemampuan mengelabui orang, kemampuan meyakinkan orang, dapat membuat orang lain jatuh dalam kerugian sementara orang yang melakukannya, dapat memperoleh keuntungan. Cerdik, licik demi sebuah kepentingan. “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan”, demikian kata Yesus, “tetapi celakalah orang yang menyesatkan orang lain.” Bagi para penyesat, lebih baik mereka dibuang dari tengah kehidupan bersama.
Pengalaman di dunia bisnis, dunia perdagangan mungkin juga bisa menjadi contoh dalam hal ini. Ada pedagang yang dengan sengaja menjual barang yang asli dengan harga sedikit lebih murah daripada barang yang palsu. Barang palsu dijual sedikit lebih mahal. Seorang pembeli yang tidak mengerti yang mana asli, yang mana palsu, mungkin akan terkecoh dan cenderung memilih yang asli karena harganya tidak jauh berbeda dengan yang palsu. Dengan cara seperti itu, banyak pedangang justru mendapat keuntungan berlipat. Ketidaktahuan orang akan harga-harga juga bisa dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki kepentingan. Tentu ini baru merupakan satu contoh.
Contoh lain bisa kita renungkan dan kita tarik dari dunia hidup bersama. Orang tua yang tidak banyak tahu perkembangan, dengan mudah dapat dikelabui oleh anaknya sendiri. Anak yang tidak banyak pengalaman, juga dapat dikelabui dengan berbagai macam alasan dan fakta fiktif. Ketidaktahuan atau menyangka orang lain tidak tahu, membuka peluang untuk memanfaatkan orang itu. Itu salah satu godaan memanfaatkan orang lain dengan membodohi mereka. Bukankah bertahun-tahun kita terlambat sadar bahwa kita seperti kerbau cocok hidung, yang dengan mudah diarahkan ke manapun? Maka alangkah baiknya bila kita menjadi orang yang banyak tahu, bukan sok tahu. Dan bila kita menjadi orang yang lebih tahu, semoga kita tidak tergoda untuk membodohi orang lain.

Marilah berdoa,
Ya Yesus, semoga kami siap untuk belajar dan tidak tertarik untuk membodohi dan menyesatkan orang lain. Amin.



Selasa, 13 November 2007
Keb 223-3:9
Luk 17:7-10
===========================================================================

BERSIKAP SEPERTI HAMBA, SUATU TUNTUTAN DALAM PELAYANAN

Orang bijak mengatakan: “Hidup yang bermakna adalah hidup yang diabdikan untuk kepentingan banyak orang dan demi kemuliaan Tuhan.” Pengabdian diungkapkan dengan melayani. Dan kesungguhan dalam melayani terlihat ketika seseorang melakukannya dengan penuh kesungguhan dan kesetiaan seperti seorang hamba melayani tuannya. Hal ini menuntut sikap tanggung jawab dan kerendahan hati.
Perlu pula diingat bahwa pelayanan yang dilakukan seseorang merupakan bentuk pertanggungan jawab terhadap panggilan Tuhan. Tentang panggilan Tuhan ini, St. Paulus mengatakan: “Ada banyak karunia tetapi hanya ada satu Roh dan ada banyak karya, tetapi hanya satu Tuhan.”
Pernyataan St. Paulus ini bukan sekadar mengatakan bahwa ada aneka karunia/talenta yang Tuhan berikan kepada manusia. Bukan juga sekadar mengatakan bahwa ada banyak karya/pekerjaan yang Tuhan berikan kepada manusia. Yang penting untuk disadari bahwa apapun karunia/talenta yang kita miliki dan pekerjaan apapun yang kita jalankan, sumbernya ada pada Tuhan sendiri. Maka dalam perspektif iman, hendaknya kita memandang pekerjaan yang kita jalankan sebagai perwujudan dari kehendak Tuhan dalam melayani sesama.
Ketika seseorang semakin mampu mengembangkan talenta yang ada pada dirinya, dan ketika pekerjaan yang ditanganinya mampu memenuhi kebutuhan banyak orang, di sana arti pelayanan ditemukannya. Apabila seseorang mempunyai pengalaman seperti ini, maka layaklah untuk bersyukur; karena dalam banyak keterbatasan sebagai manusia, masih mampu mewujudkan kehendak Allah dalam hidup.
Godaan yang paling besar, yang seringkali menimpa orang-orang sukses, adalah merasa diri hebat dan pandai. Hal semacam ini cenderung menjerumuskan manusia ke dalam sikap sombong dan tinggi hati. Biasanya orang semacam ini sangat lemah penghargaannya terhadap sesama. Di samping itu semakin lemah pemahamannya tentang peran Allah (Sang Sumber Hidup) dalam segenap perjalanan hidup.
Tuhan Yesus melalui Injil Lukas 17 : 7 – 10 mengingatkan, hendaknya bersikap rendah hati seperti hamba yang senantiasa setia dan tekun melayani. Bahkan ketika suatu pekerjaan telah dijalankan dengan baik, katakanlah: ”Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” Maka ingatlah: “Apapun pekerjaan yang kita lakukan bukan semata-mata karena kita mau, tetapi karena Allah menghendakiNya.”

Marilah berdoa,
Allah Bapa di Surga, utuslah RohMu dan tuntunlah hidupku agar aku bersikap rendah hati seperti hamba, setia dan tekun dalam pekerjaan sebagai wujud pelayananku, kini dan sepanjang masa. Amin.


Rabu, 14 November 2007
Keb 6:2-11
Luk 17:11-19
===========================================================================

BERSYUKUR, UNGKAPAN PENGHARGAAN ATAS MARTABAT HIDUP

Dalam pengalaman sehari-hari, apabila seseorang mengalami kesulitan atau berada dalam kondisi tidak berdaya, hasrat untuk mencari Tuhan amat kuat. Ketidakberdayaannya seolah menyadarkan dia tentang pentingnya campur tangan Allah dalam hidup. Sebaliknya juga, apabila kondisi seseorang baik dan lebih beruntung, seringkali hasrat untuk mencari Tuhan lemah. Bahkan ada yang melupakan Tuhan sama sekali.
Tuhan Yesus mengalami hal semacam ini, ketika Dia berhadapan dengan sepuluh orang kusta. Pada waktu itu sepuluh orang yang diceritakan dalam Injil mengidap penyakit kusta, demikian besar kerinduan mereka untuk bertemu Tuhan Yesus. Dan pada saat mereka benar-benar berjumpa dengan Tuhan Yesus, dengan penuh kerendahan hati mereka minta dikasihani. Mereka mengharapkan rahmat kesembuhan dari Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mendengarkan keluhan itu dan mereka pun disembuhkan. Tentu saja rahmat kesembuhan yang mereka peroleh dari Tuhan Yesus, bukan semata-mata karena mereka memintanya, tetapi lebih-lebih karena Tuhan mencintai dan berbelas kasih.
Akhirnya mereka pergi sebagai orang yang mengalami hidup baru. Sebelum jumpa Tuhan Yesus, mereka berpenyakit kusta, dijauhkan banyak orang karena dianggap najis, hidup dalam komunitas terasing, hidup tanpa harapan, menerima perlakuan yang tidak layak dari sesamanya. Setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus, mereka tidak lagi berpenyakit kusta karena Tuhan telah menyembuhkannya, bebas dari hidup keterasingan, tidak lagi dianggap najis, mempunyai peluang untuk menata hidup yang lebih baik (hidup dalam pengharapan), menemukan lagi martabat hidup.
Perubahan hidup seperti yang dialami sepuluh orang kusta adalah nilai dan karya yang tidak bisa diukur dengan uang dan harta apapun. Perubahan itu hanya bisa dimengerti dalam kasih Allah, yang telah mengangkat keterpurukan manusia dan menempatkannya sejajar dengan setiap orang yang bermartabat.
Bagaimana keluhuran martabat bisa dikembangkan oleh sepuluh orang kusta itu? Injil bercerita, hanya satu yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur. Orang itu adalah orang Samaria (orang Yahudi menyebut orang Samaria sebagai orang kafir). Sembilan yang lain (dari turunan bangsa pilihan) justru tidak pernah kembali lagi kepada Yesus untuk bersyukur. Sikap tidak tahu bersyukur tidak hanya mencerminkan kepribadian yang sombong dan tidak peduli; lebih dalam dari itu, tidak tahu bersyukur adalah gambaran dari ketumpulan hati nurani serta rendahnya pemahanan atas martabat hidup. Karena itu, kesembilan orang kusta yang telah sembuh, tetapi tidak tahu berterima kasih, hanya mengalami kesembuhan secara fisik, tetapi tidak pernah menemukan makna hidup dalam kebesaran kasih Tuhan.
Belajar dari kesepuluh orang kusta itu, seharusnya kita menjadi paham bahwa perjumpaan dengan Tuhan dan pengalaman mendapat berkat dari Dia, akan selalu membawa perubahan dalam hidup. Karena itu, jangan pernah berhenti datang kepadaNya. Jangan juga mencariNya hanya di kala susah, di waktu senang pun kita harus berjuang untuk tetap dekat dengan Dia. Sebab martabat hidup akan semakin dipahami dalam pengalaman kasih Allah.



Marilah berdoa,
Bapa di Surga, curahkan RohMu kepada kami agar kami memahami kehendakMu. Tumbuhkan dalam diri kami sikap syukur kepadaMu, karena apapun yang baik
dan indah dalam hidup ini, Engkau sendirilah yang memberikanNya.
Kami puji namaMu kini dan sepanjang masa. Amin.


Kamis, 15 November 2007
Keb 7:22 – 8:1
Luk 17:20-25
===========================================================================

DATANG TANPA TANDA-TANDA

Seringkali kita diajak merenung tentang datangnya kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu sering pula dimengerti sebagai hari kiamat. Melihat, merenungkan dan menilai zaman ini, ada orang yang berkata, kehancuran bumi sudah makin dekat. Gempa, bencana, kecelakaan dan sebagainya, seringkali dikaitkan dengan tanda-tanda datangnya kerajaan Allah itu. Bila datangnya Kerajaan Allah disempitkan hanya sebatas datangnya kiamat, mungkin kita akan dengan mudah mencoba menarik kesimpulan bahwa petaka dan bencana adalah tanda zaman datangnya kiamat itu.
Kerajaan Allah tidak sesempit pengertian kiamat atau kehancuran bumi seluruhnya. Kerajaan Allah jauh lebih luas maknanya daripada hanya sekedar kiamat. Kiamat atau hari akhir, tidak bisa diputuskan datangnya dengan melihat petaka dan bencana. “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah” demikian ucapan Yesus. (Luk 17:20). Walaupun petaka dan bencana menjadi sarana yang baik bagi kita untuk berefleksi, tetapi bencana itu belum menjadi tanda lahiriah hadirnya Kerajaan Allah. Dengan memperhatikan kejadian yang ada, peristiwa kehidupan dan sebagainya, kita belajar untuk semakin memahami apa kehendak dan penyelenggaraan Ilahi di dalamnya. Namun toh kita belum bisa mengambil kesimpulan bahwa petaka itupun belum tentu menjadi alat penghukum bagi manusia yang jahat. Perhatian yang ditekankan oleh Yesus dalam Injil hari ini bukan pada tanda-tanda lahiriah. Sebab ketika kita memperhatikan dan mencari tanda, kerap terlupakan apa yang sebenarnya hadir. “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21). Maka hendaknya kita bertanya lebih lanjut, sebenarnya Kerajaan Allah itu apa? Benarkah sudah hadir di antara kita?
Kerajaan Allah dalam gambaran atau bahasa manusiawi, mungkin terlukiskan dengan kata “bahagia”. Kebahagiaan sejati. Bukan kebahagiaan parsial atau sementara. Bagaimana kita menjadi bahagia di dalam setiap situasi kehidupan. Bukan hanya pada saat senang. Memang jauh lebih gampang menjadi bahagia di saat senang. Namun, bagaimana caranya melihat kehadiran kebahagiaan Kerajaan Allah dalam peristiwa salib hidup harian, itulah tanda-tanda yang tak tampak. Kerajaan Allah hadir tanpa tanda lahir “senang”, “tertawa” dan sebagainya. Kerajaan Allah hadir dalam situasi batin manusiawi walaupun hadirnya belum seluruhnya. Maka alangkah indahnya Kerajaan Allah yang hadir di tengah kita walaupun tanpa tanda yang dapat diketahui orang lain.

Marilah berdoa,
Ya Yesus, semoga kami semakin mengerti bahwa KerajaanMu hadir di tengah kami, saat ini. Amin.



Jumat, 16 November 2007
Keb 13:1-9
Luk 17:26-37
===========================================================================

DATANG TAK TERDUGA

Kematian, datang tanpa diminta. Demikian juga kelahiran. Tanpa minta dilahirkan, kita telah terlahir. Tanpa minta kematianpun, mau tidak mau, kita pasti akan mengalami kematian. Dua titik penting dalam kehidupan manusiawi ini tak bisa kita ceritakan secara pribadi, bagaimana kita dilahirkan, bagaimana pula ketika kita mati.
Kematian menjemput setiap orang yang pernah lahir. Sering orang berkata bahwa hanya kematianlah yang sebenarnya paling pasti dalam kehidupan kita. Bahwa kita pasti akan mati. Semua kita tahu itu. Caranya bermacam-macam. Ada yang dijemput ketika sedang tidur berdua, ada yang dijemput di ladang, ada yang dijemput di lantai atas dan seterusnya. Peristiwa itu terjadi begitu saja. Mereka yang masih hidup, akan menjadi saksi kematian seseorang.
Menghadapi kematian itu, Yesus mengingatkan kita untuk tidak mengikuti cara istri Lot. Istri Lot menyayangi kota dan isi dari perjuangannya di tengah kota itu. Yesus mengajarkan kita untuk lebih mengutamakan pemeliharaan jiwa daripada pemeliharaan atau menyelamatkan harta benda. Ketika terjadi hujan belerang yang menghancurkan Sodom dan Gomora, istri Lot memilih mencintai kota dan harta benda yang ditinggalkannya. Tanpa disangkanya, ternyata dia menjadi tiang garam yang tidak bisa bergerak lagi alias mati.
Kematian, adalah satu-satunya hal yang pasti di depan kita. Kita pasti akan mati. Kapan dan di mana, bagaimana caranya, mungkin kita tidak bisa memilih. Namun marilah kita sadari hal ini. Bahwa Tuhan akan mengambil teman-teman dan sahabat kita satu persatu. Tidak ada yang akan tersisa. Lalu apa yang perlu kita lakukan? Menolak kematian? Tentu itu mustahil. Maka, mari kita bersikap seperti ajakan Yesus yakni, memelihara nyawa, memelihara jiwa, karena nyata bahwa jiwa akan tetap hidup walaupun badan ini telah mati. Segala harta benda tidak akan berfaedah lagi untuk jiwa yang terlepas dari badan. Padahal hidup jiwa setelah terpisah dari badan, jauh lebih panjang daripada hidup jiwa di dalam badan yang terbatas ini.

Marilah berdoa,
Ya Yesus, beranikan kami untuk memelihara jiwa kami melebihi pemeliharaan badan kami. Amin.

Sabtu, 17 November 2007
PW. St. Elisabeth dari Hungaria
Keb 18:14-16,19:6-9; Luk 18:1-8
===========================================================================

BERBAGILAH REJEKI DENGAN PARA FAKIR MISKIN

Kisah hidup St. Elisabeth dari Hungaria memperlihatkan secara gamblang kesetiaan yang kokoh dalam menghayati cinta kasih. Kemewahan hidup yang dirasakan dan dialami St. Elisabeth dari Hungaria di istana Wartburg – Jerman Tengah sebagai istri Pangeran Ludwig IV tak pernah menyilaukan mata hatinya dan mengenyahkan perasaan batinnya untuk bersolider dengan orang-orang miskin dan sakit. Bagi orang-orang miskin dan anak-anak yatim piatu yang dalam kehidupan hariannya sangat sulit mendapatkan makanan dan minuman, St. Elisabeth dari Hungaria selalu menyediakan dan membagikan makanan dan minuman. Bagi orang-orang sakit, ia mendirikan rumah-rumah sakit guna mengobati dan menyembuhkan penyakit mereka.
Karya solidaritas ini sudah dilaksanakan St. Elisabeth dan ia tak pernah merasa takut untuk membagikan rejeki kepada para fakir miskin dari kekayaan istana, sekalipun dia mendapat tantangan yang hebat dari kaum keluarga istana. Aksi yang tulus dan mulya ini sungguh direstui Allah, sehingga dia pun akhirnya mendapatkan dukungan penuh dari sang suami. “Perbuatan amal Elisabeth akan membawa berkat Tuhan bagi kita. Kita tentu tidak akan dibiarkan Allah menderita suatu kekurangan pun, selama kita mengizinkan Elisabeth untuk meringan penderitaan orang lain,” urai Ludwig. Setelah diterima menjadi anggota Ordo Ketiga Fransiskan, St. Elisabeth dari Hungaria lebih setia pada misi sosialnya, malahan semakin intensif. Ia membaktikan seluruh diri demi kehidupan sesamanya yang miskin dan sakit.
Keteladanan hidup serta penghayatan iman St. Elisabeth dari Hungaria sungguh menggugah kita untuk bersolider dengan sesama kita yang miskin dan sakit. Di sekitar tempat kediaman kita, di sekitar tempat kerja kita, di sekitar lingkungan – wilayah – paroki kita, ada begitu banyak orang yang kelaparan dan kehausan, ada begitu banyak orang yang menderita aneka macam penyakit. Berbagilah rejeki dengan mereka. Berilah tumpangan kepada mereka dari penghasilanmu. Jangan ragu, jangan cemas. Penghasilanmu takkan pernah habis karena memberi. Sebaliknya, berkat Tuhan akan melimpah atasmu. Untuk itu, contohilah kehidupan dan keimanan St. Elisabeth dari Hungaria. Pandanglah selalu kepada Allah sang Sumber Kasih Sejati yang tak pernah terlambat memberi pertolongan kepada setiap anak manusia.

Marilah berdoa,
Ya Yesus Kristus, sumber hidup kaum miskin dan harapan kesembuhan orang-orang sakit
Datanglah dan tinggallah beserta kami umat kesayanganMu, domba gembalaanMu. Semoga hati kami seperti hatiMu sendiri, mahapenyayang dan mahapengasih, terbuka untuk menolong sesama kami yang miskin dan sakit supaya mereka selamat dan berbahagia. Amin








Minggu, 18 November 2007
Pekan Biasa XXXIII
Mal 4:1-2a; 2Tes 3:7-12; Luk 21:5-19
===========================================================================

KETEKUNAN MENYELAMATKAN HIDUP

Bacaan-bacaan suci hari ini berkisah tentang akhir zaman. Di sini akhir zaman dilukiskan sebagai momentum penuh makna bagi setiap orang beriman. Bahwa setiap orang beriman yang memiliki ketekunan terhadap Sabda dan Kehendak Allah, akan memperoleh keselamatan dalam hidupnya. Sebaliknya, barangsiapa mengabaikan Sabda dan Kehendak Allah, hidupnya akan binasa. Dengan demikian, kebinasaan itu sungguh merupakan ciptaan manusia sendiri, sebab yang ada pada Allah adalah keselamatan. Allah selalu menghendaki serentak menyediakan kebahagiaan, keadilan, damai sejahtera, sorak-sorai dan sukacita bagi umat beriman. Akan tetapi, tanggapan setiap orang beriman selalu memastikan kenyataan hidupnya. Inilah akhir zaman, ketekunan menyelamatkan hidup.
Ketekunan dalam bahasa Nubuat Maleakhi adalah menyegani nama Allah. Dalam konteks Perjanjian Lama, menyegani nama Allah berarti menghormati Allah dengan selalu menyebut namaNya secara sopan, berbakti kepadaNya dengan setia, mengagungkan serta meluhurkan Allah sebagai penyelenggara dan penjamin segala sesuatu di atas bumi ini, selalu berbicara jujur dan bertindak benar, memelihara seluruh diri agar tidak tercemar dan tidak bercela di hadapan Allah dan sesama. Setiap orang beriman yang setia melaksanakan semuanya ini akan hidup dalam cahaya kemuliaan Allah sebagai anak-anak Allah. “... bagi kamu yang menyegani nama-Ku akan terbit matahari keselamatan yang menyembuhkan dengan sinarnya.” Ya, ketekunan menyelamatkan hidup.
Dalam bahasa Injil Yesus Kristus, ketekunan merupakan kepercayaan yang teguh, mantap dan tak tergoyangkan kepadaNya sebagai Penyelamat dan Penebus satu-satunya. “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan... Janganlah kamu mengikuti mereka... janganlah kamu terkejut...” Kepercayaan seturut pewartaan Yesus Kristus adalah kerelaan untuk mempersembahkan totalitas diri demi perwujudan kehendak Allah secara tuntas dan paripurna. Dengan kata lain, kepercayaan berarti hidup hanya untuk Allah. “Aku datang bukan melaksanakan kehendakKu sendiri melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Maka, ketekunan merupakan keyakinan yang sungguh akan Allah sebagai penjamin kehidupan setiap umat beriman, sebagaimana diteladankan oleh Yesus Kristus, Penyelamat dan Penebus. Bahwa Allah yang memberi hidup, Dialah juga yang akan menyelenggarakan hidup, dan dia pulalah yang akan menyelesaikan dan menuntaskan hidup yang telah Dia beri dan selenggarakan. “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu bertekun, kamu akan menyelamatkan hidupmu.”
Wahai sudara-saudari, marilah kita menyatakan komitmen untuk berpegang teguh pada ketekunan. Sesungguhnya, ketekunan dapat menyelamatkan hidup kita. Semoga hidup Yesus menjadi hidup kita dan misi Yesus menjadi misi kita. Tuhan selalu memberkati kita.

Marilah Berdoa,
Ya, Yesus ingatlah akan umatMu yang tekun dalam penghayatan iman akan Dikau
sebagai penyelamat dan penebus, apabila Engkau datang kembali
sebagai Raja segala raja dan Tuhan semesta alam. Amin


Senin, 19 November 2007
1 Mal 1:10-15.41- 43.54-57.62-64
Luk 18:35-43
===========================================================================

MELIHAT KARENA IMAN

Ada seorang aktivis gereja yang sering merasa terganggu melihat seorang bapak tua berpakaian lusuh masuk ke gereja setiap hari dan keluar dari gereja setelah 2 menit berada di dalam gereja. Aktivis ini pun penasaran, apa sih yang dia kerjakan? Ia pun menyuruh koster untuk menanyai bapak tua itu. Aku berdoa, jawab bapak tua itu. Benarkah bapak berdoa, tanya si koster, sebab bapak berada di gereja hanya sebentar saja. Memang benar jawabnya, aku tidak dapat berdoa lama, tetapi setiap siang jam 12 aku datang dan hanya berkata, “Yesus, ini Petrus” dan setelah 1 menit menunggu, aku keluar. Ini hanya sebuah doa yang singkat , tetapi aku kira Dia mendengar aku.
Cerita ini mau menyampaikan sebuah pesan bagi kita bahwa doa yang baik itu tidak selalu berupa doa yang banyak kata dan panjang lebar. Dalam Injil, Bartimeus mengucapkan sebuah seruan yang singkat “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku”. Lebih keras ia berteriak “Anak Daud, kasihanilah aku”. Kata Yesus kepadanya “apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu”. Ia menjawab, “Tuhan, supaya aku dapat melihat”. Yesus berkata lagi “melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Seruan si buta mendapat tanggapan positif dari Yesus, berupa anugerah kesembuhan penglihatan.
Penglihatan sering melambangkan iman, yang memberi terang dan arah baru kepada hidup. Nasib orang buta pada masa Yesus sangat tergantung dari kedermawanan orang lain, karena sendiri tidak dapat bekerja. Sebagaimana kisah orang buta yang disembuhkan oleh Yesus, datang dibawa orang lain atau duduk sebagai peminta-minta di pinggir jalan. Tetapi dengan jadi melihat ia tidak hanya melihat dunia terang dengan mata baru tetapi ia juga dapat mengerjakan sesuatu. Penyembuhan dari kebutaan itu diperoleh karena iman. Dunia dan seluruh ciptaan dilihat dengan mata baru, mata iman dan dengan ini ia bisa melakukan perbuatan-perbuatan iman, yang memberi pahala kehidupan kekal.
Satu-satunya permohonan si buta pada Yesus yaitu supaya bisa melihat. Dan ketika sudah diberi ia mengikuti Yesus dan memuliakan Allah. Si buta mengajarkan kita satu hal bahwa setiap Doa yang ditopang oleh iman pasti akan mendapatkan jawaban dari Tuhan. Jawaban atas doa itu tidak tergantung pada indahnya kata-kata yang diucapkan atau panjangnya rumusan doa yang disampaikan melainkan pada sikap batin dalam iman. Artinya dalam iman kita percaya bahwa setiap doa yang disampaikan pasti didengar oleh Tuhan. Dan Tuhan pasti telah menyiapkan jawabannya untuk si pemohon menurut rencana dan kehendakNya sendiri. Karena itu, bagaimana sikap kita saat berdoa di hadapan Tuhan? Apakah kita berpasrah diri dalam iman atau lebih banyak menuntut Tuhan melaksanakan kehendak kita? Semoga mata batin kita selalu terbuka untuk melihat karya agung Tuhan dalam diri dan hidup kita sehari-hari.

Marilah berdoa,
Tuhan, bukalah mata hati dan iman kami agar dapat melihat Engkau dalam setiap peristiwa hidup yang kami jumpai, semoga lewat peristiwa itu kami semakin erat bersatu dengan Dikau. Amin.

Selasa, 20 November 2007
2 Mak 6:18-31
Luk 19:1-10
=========================================================================

ZAKEUS MENERIMA YESUS DENGAN SUKACITA

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang yang selalu menganggap dirinya paling baik dan orang lain paling buruk. Biasanya orang seperti itu jarang mau bergaul dengan orang lain, apalagi dengan orang yang mempunyai kebiasaan buruk. Mereka membentengi diri dengan bermacam-macam alasan. Zakheus, kepala cukai yang dikisahkan dalam Injil tadi mendapat perlakuan tidak manusiawi dari sesamanya. Zakheus divonis sebagai pendosa karena telah “memakan” uang rakyat. Karena tuduhan itu Zakheus dikucilkan dalam pergaulan. Ia disingkirkan dari kehidupan bersama. Penolakan itu tentu sangat menyakitkan.
Namun demikian, Yesus menemukaan sisi-sisi kebaikan dalam diri Zakheus. Kerinduan Zakheus untuk bertemu dengan Yesus merupakan langkah awal pembaharuan bagi hidupnya. Kerinduan itu nyata dalam usahanya, ia memanjat pohon hanya untuk melihat Yesus. Suatu tindakan yang tidak masuk akal dilakukan oleh seorang pejabat terhormat. Tapi itulah cara Zakheus mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam untuk bertemu dengan Yesus. Tindakan itu menadapat simpati dari Yesus yang lewat di depannya. Yesus menyapa dia, “Zakheus segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”. Bayangkan, Zakheus yang dianggap berdosa oleh sesamanya, mendapat tempat di hati Yesus. Yesus makan bersama mereka.
Keterbukaan Zakheus untuk menjamu Yesus di rumahnya menghantar dia pada pertobatan. Pertobatan itu nyata dalam sikap dan perbuatannya. Katanya, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat”. Kepolosan dan kejujuran untuk mengungkapkan diri apa adanya di hadapan Yesus mendatangkan rahmat yang tak berhingga. Yesus memuji kejujurannya. “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham”. Keselamatan dinyatakan pertama-tama karena pertobatan Zakheus. Hal itu mengingkatkan kita akan sabda Yesus bahwa “akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (bdk. Luk 15:7).
Pertobatan mutlak perlu bagi suatu pembaharuan hidup. Namun, orang bisa bertobat kalau dengan jujur ia melihat dirinya. Bahaya, kalau orang menganggap dirinya selalu benar dan tidak bercacat. Orang seperti ini masuk dalam kategori 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. Apa iya? Ingat bahwa kita bukanlah malaikat. Bisa saja kita pernah jatuh dalam dosa. Dari kita pun dituntut untuk bertobat, dan seperti Zakheus dengan jujur mengungkapkan diri apa adanya di hadapan Tuhan. Semoga kita dapat memperlakukan setiap orang dengan hormat dan baik, sebab dalam diri merekalah kita menemukan Tuhan. Karena itu, kita harus berani untuk membongkar tembok-tembok pemisah dalam membangun relasi dengan Tuhan dan sesama. Menyambut sesama dengan baik berarti menyambut Kristus sendiri. Cara Zakheus menyambut Yesus bisa menjadi contoh bagi kita di dalam menerima sesama dalam pergaulan sehari-hari. Mari kita membuka pintu rumah hati kita lebar-lebar untuk menyambut Tuhan dan sesama dengan penuh sukacita.

Marilah berdoa,
Tuhan Yesus, sudilah Engkau menjadi tamu dalam keluarga dan komunitasku setiap hari, sebagai mana dahulu Engkau sudi mendatangi rumah Zakheus. Amin.

Rabu, 21 November 2007
PW. St. Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak 7:1,20-31; Luk 19:11-28
===========================================================================

MELIPATGANDAKAN MINA

Pemimpin, entah pemimpin daerah, negara ataupun pemimpin lembaga dan perkumpulan selalu berganti. Proses penggantian pemimpin dapat bermacam-macam cara. Ada yang melalui pemungutan suara atau pemilihan umum, atau ditunjuk begitu saja. Apapun caranya pergantian pemimpin itu, yang dipimpin mau tidak mau harus menerimanya.
Yesus sudah mendekati Yerusalem, demikian Lukas berkisah tentang perjalanan Yesus. Sejumlah orang mengikuti Dia. Tak dapat dihindari idealisme dan harapan bergelayut di dada orang-orang yang mengikuti Yesus itu. Yang sempat dirasakan oleh Yesus adalah: orang banyak tersebut telah mabuk akan pemimpin duniawi yang akan membawa pembebasan bagi mereka. Kerajaan Allah sudah kelihatan. Artinya, Yesus siap dinobatkan menjadi raja.
Dan memang demikian adanya. Yerusalem adalah puncak perjalanan Yesus. Di sanalah Ia akan dinobatkan, tapi bukan sebagai raja duniawi, pemimpin revolusioner dan pembebas kaum tertindas. Yesus akan secara definitif melengkapi Mesianitasnya di Yerusalem sebagai kurban dan Anak Domba yang tak berdaya di hadapan pembantaiNya. Tidak semua orang dapat menerima pengangkatan Yesus sebagai Raja Tersalib.
Sama halnya dalam pergantian pemimpin atau raja, tidak semua orang dapat menerima kepemimpinan orang yang baru diangkat tersebut. Sekalipun itu di kalangan terdekat, dapat terjadi sikap pembangkangan dan pemberontakan terhadap pemimpin atau raja yang baru.
Dalam perumpamaan yang diajarkan Yesus, sikap kontra itu ditunjukkan oleh hamba-hamba yang menerima mina dari raja yang baru saja dilantik. Hamba-hamba yang baik dan setia melipatgandakan satu mina yang diterimanya hingga menjadi sepuluh atau lima mina. Perbuatan itu dipandang baik oleh sang raja. Hamba-hamba tersebut menerima imbalan kekuasaan atas sepuluh atau lima kota. Lalu datanglah menghadap seorang hamba yang hanya menyimpan mina itu dalam sapu tangannya. Ia tak melipatgandakan mina tersebut. Ia bahkan berkata mengkritik tuannya: aku takut akan tuan karena tuan adalah manusia yang keras; yang mengambil apa yang tak pernah tuan taruh dan menuai apa yang tak pernah tuan tabur. Dengan kata lain, hamba itu mengatai tuan dan rajanya sebagai pemeras!
Akibatnya jelas. Raja tersebut marah hebat pada hamba yang malas itu. Jelas sekali hamba itu tidak suka tuannya itu menjadi raja. Lebih dari itu, hamba itu dihukum berat karena tidak melipatgandakan anugerah yang telah ia terima. Jadi, tidak melipatgandakan apa yang telah kita terima dari Tuhan adalah sebuah kesalahan fatal. Tidak menerima Dia sebagai raja kita, adalah juga kesalahan besar.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga kami berusaha senantiasa melipatgandakan apapun yang telah kami terima sebagai anugerah dariMu. Amin.



Kamis, 22 November 2007
PW. St. Sesilia, Perawan dan Martir
1Mak 2:15-29; Luk 19:41-44
===========================================================================

RATAPAN CINTA

Sebelum memasuki Yerusalem, dikisahkan oleh Lukas bahwa Yesus menangisi kota Yerusalem. Dalam tangisan dan ratapan itu, Yesus meramalkan kehancuran kota Yerusalem. Dan ramalanNya itu terbukti. Tahun 70 ekspedisi militer Romawi yang dipimpin panglima perang Titus memporakporandakan Yerusalem dan menceraiberaikan penduduk Yerusalem. Kota itu rata dengan tanah. Itu terjadi karena penduduk Yerusalem tidak mau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera yang diberikan Allah untuk mereka. Dan damai sejahtera itu ada dalam diri Yesus. Yang menolak Yesus sebagai damai sejahtera, niscaya akan porak poranda, demikian inti pesan ratapan Yesus atas kota Yerusalem.
Namun, menerima Yesus juga tidak mudah. Itu terjadi pada jemaat kristen pada abad-abad awal di Roma. Orang-orang kristen harus melakukan ibadat secara sembunyi-sembunyi karena dimusuhi negara. Masa-masa awal kekristenan diawali dengan darah para martir yang rela menumpahkan darah untuk mempertahankan iman kepada Yesus.
Para martir berasal dari pelbagai kalangan. Ada yang dari kalangan pemimpin, uskup, dan bahkan anak-anak dan para gadis. Salah satu gadis yang terkenal sebagai martir adalah Sesilia. Ia telah menyerahkan hidupnya untuk menjadi mempelai Kristus. Ia adalah gadis cantik yang diincar oleh seorang bangsawan kaya raya. Namun karena bangsawan tersebut tidak percaya pada Kristus dan lagipula Sesilia telah berikrar untuk hidup perawan demi Kristus, ia menolak pinangan tersebut. Ia tidak silau oleh gemerlapnya harta dan kekayaan duniawi. Tentu saja penolakan tersebut menimbulkan amarah besar si bangsawan kaya raya. Kemudian ia memerintahkan prajuritnya agar Sesilia ditangkap dan disiksa untuk menyangkal imannya dan mau diperistrinya.
Pelbagai cara penyiksaan dialami Secilia. Tapi ia tetap bertahan pada imannya. Akhirnya ia menerima hukuman dengan api. Tubuhnya dibakar sampai mati. Menurut tradisi, ketika jiwanya diangkat ke surga saat mengalami kematian, terdengar paduan merdu surgawi yang menyambutnya dengan penuh kemuliaan. Selanjutnya Santa Secilia dijadikan orang kudus pelindung paduan suara gerejawi.
Tubuh Sesilia telah hancur dan porak poranda dan itu tak perlu diratapi. Sebaliknya justru Sesilia menerima alunan merdu paduan suara surgawi karena ia telah setia pada Kristus yang telah diimaninya. Bagi orang yang mau menerima Yesus sebagai pokok damai sejahtera, memang harus rela pula menghancurkan godaan dan tawaran kekayaan duniawi. Hilangnya kekayaan duniwai tak perlu diratapi, tapi ketidakmauan menerima Yesus sebagai damai sejahtera lah yang harus diratapi.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan ajarilah kami untuk tetap setia pada Yesus PuteraMu. Amin.





Jumat, 23 November 2007
1Mak 4:36-37,52-59
Luk 19:45-48
===========================================================================

RUMAH TUHAN RUMAH DOA

Salah satu dari sedikit perikop dalam Injil yang memperlihatkan “kemarahan” Yesus adalah perikop tentang “penyucian Bait Allah”. “Kemarahan” Yesus bermula ketika Ia masuk ke Bait Allah. Yang didapati-Nya di sana bukan orang yang sedang berdoa, melainkan para pedagang yang sedang menjajakan barang jualan mereka. Melihat itu, wajar bila Yesus menjadi ‚geram‘ dan mengusir mereka semua ke luar dari sana. Siapa di antara kita yang tidak marah, bila rumah kediamannya dijadikan tempat berdagang? Apalagi yang dijadikan tempat berdagang tersebut adalah rumah yang dikuduskan bagi Allah?
Rumah Tuhan (Gereja) adalah rumah yang dikhususkan bagi Tuhan. Rumah Tuhan adalah tempat dimana kita bisa “bertemu” secara pribadi dengan Tuhan dan “bercakap-cakap” dengan Dia dari hati ke hati. Di sana kita bukan saja bertemu dengan Tuhan, tetapi juga dengan sahabat dan kenalan kita, dengan sesama kita, dengan orang-orang yang seiman dengan kita. Di dalam Rumah Tuhan, kita berjumpa dengan begitu banyak orang, yang seperti kita, sama-sama ingin bertemu dan mencari pertolongan Tuhan. Rumah Tuhan adalah rumah doa. Di sana, di dalam keheningan bathin, orang dapat menemukan kedamaian yang tidak bisa dia temukan di dalam dunia. Karena itu wajar, bila kita diminta untuk menghormati Rumah Tuhan. Sebab itu masuk akal, bila Yesus ‚berang‘ dengan segelintir orang Yahudi yang tidak menghormati Rumah Bapa-Nya. Barang siapa yang menghormati Rumah Tuhan, secara tidak langsung dia telah menghormati “Dia” yang mendiami rumah tersebut.
Semoga tindakan Yesus hari ini, menjadi peringatan juga bagi kita, supaya kita, bukan saja semakin hari semakin menghormati Rumah Tuhan, tetapi lebih dari itu, agar kita sungguh-sungguh menjadikan Rumah Tuhan sebagai rumah Doa dan rumah, dimana semua orang bisa mengalami dan merasakan kasih dan kebaikan hati Allah.

Sabtu, 24 November 2007
PW. St. Andreas Dung-Lac, Imam dkk Martir Vietnam
1Mak 6:1-13; Luk 20:27-40
===========================================================================

BANGKIT UNTUK HIDUP BARU

Salah satu pertanyaan yang selalu dipersoalkan dan sering didiskusikan oleh banyak orang, bukan saja oleh para ahli tetapi juga oleh kaum awam adalah pertanyaan mengenai kebangkitan orang mati. Apakah benar ada kebangkitan orang mati? Bukan saja orang-orang pada jaman ini yang memperdebatkan masalah tersebut, bahkan orang-orang pada jaman Yesus pun sudah ramai memperbincangkannya. Bahkan dua kelompok yang paling berpengaruh dalam kehidupan orang Yahudi pun terpecah pendapatnya ketika berbicara tentang kebangkitan orang mati. Di satu pihak, orang-orang Saduki sama sekali tidak mengakui adanya kebangkitan orang mati, bahkan mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Di lain pihak, orang-orang Farisi percaya bahwa ada hidup sesudah kematian, mereka yakin bahwa setiap orang akan dibangkitkan pada akhir jaman.
Ketika Yesus datang ke dunia dan mulai mengajar tentang akhir jaman, orang-orang Saduki yang didorong oleh rasa ingin tahu dan penasaran, bertanya kepada-Nya, bagaimanakah bentuk kehidupan sesudah kematian? Bila ada, bagaimanakah bentuk kehidupan itu, apakah sama seperti kehidupan kita di dunia ini?
Bagi Yesus, pemahaman orang-orang Saduki akan kebangkitan itu keliru, karena mereka selalu membayangkan atau membandingkan kehidupan setelah mati dengan kehidupan di dunia ini. Mereka berpikir bahwa apa yang terjadi di dalam dunia ini, akan berlanjut terus dalam kehidupan setelah kebangkitan. Padahal, menurut Yesus, apa yang terjadi dalam kehidupan kita di dunia ini sekarang, sangat berbeda jauh dengan kehidupan setelah mati. Setelah bangkit dari alam maut, orang tidak akan lagi makan dan minum, orang tidak akan lagi kawin dan dikawinkan.
Satu-satunya hal yang dilakukan oleh manusia setelah ia dibangkitkan dari alam maut adalah bersama-sama dengan para malaikat memuji dan memuliakan Allah, untuk selama-lamanya. Kebangkitan adala awal untuk hidup baru, hidup baru bersama-sama dengan Allah dalam Kerajaan-Nya.


Minggu, 25 November 2007
HR. Tuhan Yesus Raja Semesta Alam
1 Sam 5:1-3; Kol 1:12-20; Luk 23:35-43
===========================================================================

KRISTUS ADALAH RAJA CINTA KASIH SEJATI

Rasanya tidak ada yang lebih tepat untuk menggambarkan siapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang kita rayakan hari ini sebagai Kristus Raja Semesta Alam, sebagai Raja Cinta Kasih. Walau sebutan atau istilah raja langsung membawa kita ke sosok penguasa, penuh wibawa, kuat dan perkasa, berdiam di istana gemerlapan, duduk di takhta berbalutkan emas dan perak, serta bermahkotakan ratna-mutu manikam dan serba kemewahan, namun Kristus yang kita sembah dan kasihi sebagai Raja, jauh dari bayangan akan penampilan yang demikian itu. Lukas, penginjil menunjukkan sisi yang sebaliknya siapa itu Kristus yang adalah Raja Semesta Alam. Istananya adalah bukit tengkorak, tahktanya adalah salib palang penghinaan, dan mahkotanya adalah lingkaran duri-duri tajam yang menancap-merobek kulit kepala sehingga menetes darah yang mengalir membasahi wajah dan seluruh tubuhNya. Dan yang mengelilingiNya bukanlah para punggawa dan prajurit siap sedia menjaga dan menyembah hormat kepadaNya serta mengelu-elukan Dia, melainkan para prajurit yang memukul, meludahi, memakuNya pada palang penghinaan dan terus-menerus mengolok-mengejekNya. Betapa ironisnya tampilan Kristus Sang Raja Semesta Alam ini.
Namun justru di sinilah letak keistimewaan-misteri Kristus. Dia memang Raja semesta alam, namun Dia adalah Sang Raja Kasih, Sang Raja Cinta yang sempurna. Di istana Golgota, ia menunjukkan cinta yang sehabis-habisnya...”menyerahkan nyawa bagi manusia dan dunia yang dicintaiNya”. Dari atas tahkta salib, Dia menunjukkan bahwa dasar terdalam cinta kasih antar manusia dan perdamaian antara bangsa hanya mungkin dimulai dari kerelaan untuk mengampuni tanpa batas. Dan dari atas mahkota yang melingkari kepalaNya, bukanlah pancaran kilau-kemilau emas, perak dan segala keindahan dunia, melainkan mengalir tetes-tetes darah kasih suci untuk membersihkan dan menghapus noda-noda dosa manusia. Lalu, dari atas takhta itulah dunia boleh berharap untuk mendengarkan seruan jaminan keselamatan kekal...”Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus!” untuk setiap kita yang sadar diri bahwa kita adalah orang-orang berdosa.
Pesona Kristus Sang Raja Cinta Kasih sejati ini teramat dalam dan menggetarkan, kalau direfleksikan dalam keheningan batin kita. Betapa nada-nada kasih suci itu tidak terdengar di kala remang-remang pesona sentimentil dan kata-kata cinta berbusa karena dilanda asmara bergelora; dia tidak hadir di pojok-pojok kafe dan restoran-restoran metropolitan yang berselimutkan warna-warni lampu yang mempesona; pun dia bukan terjadi dalam alunan-alunan syair-syair cinta yang sering mengikat pribadi-pribadi dalam rindu dendam oleh egoisme dan kepuasaan diri dari mereguk kenikmatan fana yang bertabur dosa... Namun pesona kasih suci dan sejati dari Kristus Sang Raja, terbentang tragis dalam kepasrahan total kepada kehendak Bapa, yang mencitakan keselamatan dan kebahagian abadi semua insan ciptaanNya. Itulah misteri cinta ilahi, yang hanya mungkin dipahami dalam pasrah-iman yang total dan mendalam, di dalam keheningan adaku, adamu, ada kita sebagai ciptaanNya. Di hadapan Sang Raja Cintakasih sejati, mungkin cuma seru ini bisa keluar dari dasar hati:



Marilah berdoa,
“Trimakasih Tuhan, karena kasih-cintaMu semulia dan seagung itu. Rajailah hatiku, agar kasihmu mekar dan bertumbuh subur dalam hati dan hidupku. Dan terpujilah Engkau Kristus Raja, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Amin.”

Senin, 26 Nopember 2007
Dan 1:1-6,8-20
Luk 21:1-4
===========================================================================

MAKNA SEBUAH PEMBERIAN TERLETAK PADA PEMBERI

Sukar memang di jaman kita untuk membuat penilaian yang tepat terhadap pemberian yang kita terima. Banyak sisi pandang yang bisa dipakai untuk memaknai sebuah hadiah atau pemberian. Ada orang yang melihat sebuah hadiah dari sisi harga, artinya mahal-murahnya apa yang diberikan; orang lain melihat dari sisi artistik atau keindahan, sebuah pemberian bermakna pada indah tidaknya apa yang diberikan; ada juga orang lain yang menilai dari segi jangka waktu, maksudnya kalau bisa dimanfaatkan untuk jangka waktu yang lama berarti lebih bermakna, dan sebaliknya. Tiga sisi pandang di atas adalah memberi penilaian atau makna sesuai hadiah pada apa yang dihadiahkan itu sendiri. Pola penilaian yang demikian adalah yang lumrah dalam pandangan manusia. Artinya orang akan merasa sesuatu itu bernilai terletak pada besar-kecilnya, indah-tidaknya dan murah mahalnya apa yang diberikan. Hal ini juga dipakai atau diterapkan dalam kehidupan keagamaan dengan praktek pemberian kolekte atau sumbangan (wajib) dalam Gereja.
Kisah injil Lukas hari ini menceriterakan kepada kita bagaimana Tuhan memberi penilain kepada kolekte atau persembahan yang diserahkan oleh orang-orang Yahudi. Bertolak belakang dengan pandangan umum orang Yahudi yang begitu menjunjung tinggi nilai suatu derma pada segi kuantitas, Yesus mengajak mereka untuk menilai derma itu dengan kacamata Tuhan, yang justru tidak melihat dan menghargai pemberian atau derma itu pada apa yang didermakan, tetapi pada orang yang menyampaikan pemberian/derma tersebut. Yang dimaknai Tuhan Yesus adalah nilai kerelaan, ketulusan orang yang menyampaikan derma itu dan bukan pada jumlah atau aspek lain dari derma yang diserahkan. Persembahan, derma atau kolekte ‘dua peser’ dari janda miskin, tidak ada artinya di mata manusia, apalagi dibandingkan dengan orang-orang kaya yang bisa menyerahkan berdinar-dinar. Namun di mata Tuhan, ‘dua peser’ derma janda miskin itu adalah ungkapan kerelaan dan ketulusannya untuk mensyukuri anugerah dan berkat kehidupan yang telah diterimaNya dari Tuhan. ‘Dua peser’ itu bukan lagi sekedar uang, tetapi itu adalah nafkah dan hidupnya, dia serahkan dengan rela dan tulus, kepada Tuhan. Yesus tidak menilai barang, uang yang kita berikan, tetapi Dia menilai siapa kita, apa disposisi batin, niat dan suasana hati kita, ketika kita menyampaikan persembahan kepada Tuhan. Sebenarnya hal ini tidak sulit untuk dipahami. Kita sering terjebak, dan salah paham dalam hal pemberian/persembahan kita kepada Tuhan. Kita berpikir, mungkin tanpa sadar, seolah-olah persembahan itu adalah seperti hadiah yang biasa kita berikan kepada sesama kita. Kita lupa bahwa persembahan, derma atau kolekte itu adalah pemberian kita untuk Tuhan. Jadi Tuhan melihat isi hati kita, Dia menilai ketulusan dan kerelaan kita dalam memberikan persembahan tersebut, Dia tidak berkepentingan dengan jumlah atau kualitas persembahan kita. Pemahaman yang demikianlah yang mendasari kebijakan dalam Gereja Katolik kita, untuk tidak menentukan jumlah kolekte yang harus kita serahkan setiap minggu. Kita bebas dan boleh menyerahkan berapa saja, sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. Karena Tuhan sendirilah yang akan menilai perbuatan dan maksud hati kita. Ingat! Makna pemberian atau persembahan di mata Tuhan tidak terletak pada apa yang kita berikan, tetapi pada siapa kita yang memberikan persembahan itu.


Marilah berdoa,
Tuhan ajarilah kami untuk mengharagai rahmat dan setiap anugerah yang kami terima dalam hidup ini. Bantulah kami untuk tahu berterimakasih kepadaMu lewat persembahan yang kami bawa. Amin.

Selasa, 27 November 2007
Dan 2:31-45
Luk 21:5-11
===========================================================================

KEINDAHAN MATERI TAK KEKAL

Emas adalah logam mulia yang tidak bereaksi dengan zat asam. Orang menganggap bahwa emas adalah standar ukuran karena tidak berubah-ubah kadarnya. Tetapi keindahan emas tidak selamanya menarik semua orang. ada orang yang tidak bisa menikmati indahnya emas. Bahkan ada orang yang menganggap bahwa gigi buaya, jauh lebih mahal daripada emas. Indah atau tidak adalah hal yang relatif. Ukuran keindahan setiap orang tidak sama.
Seorang yang dihadiahi sebuah handphone oleh seseorang, tidak mau mengganti handphone itu, walaupun sudah tampak hancur karena sering terjatuh. Nilai sebuah handphone atau sebuah benda tidak diukur dari penampilan yang kelihatan itu. Benda yang nyaris hancur itu, lebih bernilai daripada handphone tipe terbaru karena ada nilai lain yang mengikutinya.
Keindahan bait Allah Yerusalem yang sempat dikagumi pada zaman Yesus, menjadi bahan pewartaan Yesus. Keindahan hasil karya tangan manusia memang bisa saja mengundang perhatian orang. Tetapi Yesus mengingatkan, keindahan itu tak akan bertahan lama. Ada saat kehancuran. Layak bila kita bertanya, untuk apa sebuah keindahan dibangun? Untuk apa kota-kota besar dibangun dengan konsep macam-macam? Malahan zaman sekarang, banyak gedung gereja besar dan indah di Eropa yang tidak lagi dipakai dan akhirnya dijual karena biaya pemeliharaan gedungnya amat mahal?
Keindahan dapat membantu kita untuk hidup lebih baik. Namun bila hanya keindahan semata yang diutamakan, rupanya kata-kata Yesus perlu diperdengarkan lagi, bahwa keindahan, pada saatnya akan hancur. Jika demikian, untuk apa sebuah keindahan? Untuk apa sebuah kecantikan dan perawatannya? Apakah untuk hari ini saja? Untuk minggu depan? Atau untuk kehidupan indah setelah melewati pintu gerbang kematian?

Marilah berdoa,
Ya Yesus, ajarkan kami untuk hanya mengagumi Engkau Sendiri, Allah yang Maha Indah, Agung dan Dahsyat. Amin.


Rabu, 28 November 2007
Dan 5 : 1 – 6. 13 – 14. 16 – 17. 23 – 28
Luk 21 : 12 – 19
===========================================================================

SETIA DALAM IMAN KITA

Dalam kehidupan kita setiap hari seringkali kita mengalami atau mendengar masalah yang berkaitan dengan agama, bahkan masalah ini akhir-akhir ini menjadi marak diberitakan di televisi swasta kita. Ada gejala bahwa orang lebih cenderung mencari kekurangan-kekurangan dari orang lain ketimbang hal-hal yang baik. Hal ini juga masuk dalam cara berpikir kita tentang agama. Orang cenderung mencari kekurangan-kekurangan dalam suatu praktik beragama kemudian menilainya sebagai sesat atau kafir.
Dalam injil Lukas hari ini, Yesus mengingatkan para pengikutNya akan persoalan ini. “Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena namaKu” (Luk 21 : 12). Tetapi, ironisnya Yesus tidak menyuruh para murid untuk menghindar dari kenyataan ini, melainkan mengatakan bahwa justru itulah kesempatan untuk bersaksi tentangNya. Tentu kita bertanya “Mengapa?”
Yesus bukannya memberikan solusi bila para murid menghadapi kenyataan ini malah yang ditawarkan justru akan memberatkan hukuman bagi murid yang tertangkap. Secara logis, kita pasti berpikir bahwa kenyataan ini akan membuat hukuman menjadi semakin berat. Dan, yang pasti kita akan ketakutan. Sebagai manusia biasa, kita pasti berusaha menghindar bila akan tertangkap atau paling kurang berusaha untuk memberikan pembelaan agar selamat dari hukuman penjara.
Suatu hal yang ironis, namun nyata. Yesus berkata “Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Hal ini memang sulit. Yesus sendiri membuktikan kebenaran kata-kataNya melalui peristiwa salib dan kebangkitanNya. Yesus mengajak kita menyangkal kekuatan manusiawi kita dan mengandalkan kekuatanNya. Secara tidak langsung, Yesus mau mengatakan bahwa bila dalam suatu persoalan kita tidak tetap berpegang teguh pada keyakinan kita akan Yesus sebagai Juru Selamat kita, maka kita pasti akan binasa. Kalau kita berusaha untuk mempertahankan iman tetapi tidak percaya kepada Tuhan dan mengandalkan kekuatan sendiri, maka kita tidak bisa diselamatkan. Yesus meminta kita untuk tetap teguh beriman dan bersaksi tentang Dia, meskipun dalam situasi sulit dan tertekan karena Yesus sendiri yang akan memberikan jaminan keselamatan. Amin.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan dalam setiap situasi apapun yang menekan kami, semoga kami tetap setia padaMu. Amin.

Kamis, 29 November 2007
Dan 6 : 12 – 28
Luk 21 : 20 – 28
===========================================================================

YERUSALEM

Ada dua berita yang bisa kita simak dalam bacaan injil hari ini, yakni berita buruk dan berita gembira. Pertama, berita buruknya bahwa akan ada keruntuhan Yerusalem oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Pada masa sekarang, kita bisa mengerti “Yerusalem” sebagai orang-orang yang mengikuti Tuhan. Yerusalem adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan, karena itu yang menjadi berita buruk bagi kita, yakni orang yang tidak percaya kepada Tuhan akan bangkit dan menyerang kita. Dalam hal ini kita bisa mengerti sebagai suatu tantangan bagi kita yang percaya kepada Kristus bahwa ada orang lain yang tidak bisa menerima Kristus dalam hidupnya. Dengan kata lain, tidak mengakui Kristus sebagai Allah. Dan, itulah tantangan bagi kita untuk menghadapinya. Berita kedua, yaitu berita gembira. “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatmu sudah dekat.”
Sebagai orang katolik kita percaya pada kedatangan Anak Manusia untuk kedua kalinya. Kita percaya bahwa kedatanganNya akan membawa keselamatan bagi semua orang yang percaya kepadaNya. Ia datang sebagai penyelamat. Yesus akan datang menyelamatkan kita dari kebinasaan.
Kalau kita menyimak bacaan injil hari ini, akan timbul pertanyaan bagi kita, “mengapa harus ada keruntuhan seperti yang dialami Yerusalem sebelum Anak Manusia datang?” Pertanyaan ini akan terus mengganggu bila kita tidak yakin kepada Kristus sebagai penyelamat kita. Kalau kita percaya bahwa Kristus akan menyelamatkan kita, maka kita tidak akan merasa gentar karena pada saatnya Kristus akan menyelamatkan kita dari kebinasaan. Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kita yakin bahwa jiwa kita akan diselamatkan meskipun kita akan kehilangan hidup di dunia ini.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, arahkanlah perjuangan hidup kami menujuk Yerusalem surgawi, saat PuteraMu datang dan memulihkan kami semua dalam kebahagiaan kekal. Amin.

Jumat, 30 November 2007
Pesta St. Andreas, Rasul
Rm 10 : 9 – 18, Mat 4 : 18 – 22
===========================================================================
KEPASTIAN
Ramalan Badan Metereologi dan Geofisika tentang cuaca dan gejala alam lainnya sering tidak menjadi kenyataan, tetapi menggugah hati dan pikiran kita untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi peristiwa-peristiwa alam yang akan terjadi tersebut. Orang menyiapkan payung kalau hari akan hujan, atau menyiapkan segala sesuatu untuk mengungsi bila akan terjadi tsunami dan gempa bumi.
Kita mudah memperhatikan gejala-gejala alam, tetapi kurang memberi perhatian pada gejala atau tanda-tanda yang ada dalam pikiran dan hati kita, seperti pikiran yang kalut, perasaan hati yang tak enak, gelisah, kuatir, rasa tak puas dan lain-lain.
Gejala-gejala batiniah ini sebenarnya dapat menunjukkan situasi rohani yang ada dalam diri kita dan sejauh mana kesiapan hati kita untuk bertemu dengan Yesus.
Maka, kita boleh bertanya dalam hati kita masing-masing, sudah berapa lama saya enggan menerima sakramen tobat? Apakah karena saya merasa malas atau menganggap dosa sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja?
Andaikata kita mau berusaha mengenal suasana batin kita, kita pasti menyiapkan seluruh diri kita untuk menerima kehadiran Yesus dengan kuasa kasihNya. Kita tahun bahwa ramalan tentang cuaca atau peristiwa alam lainnya sering tidak menjadi kenyataan, tetapi sabda Tuhan itu pasti akan terjadi entah ada tanda-tanda alam atau tidak. Dalam kitab Kejadian, Tuhan bersabda dan semuanya itu terjadi (Kej 1 : 1 – 3).
“Langit dan bumi akan berlalu tetapi SabdaKu tak akan berlalu” (Luk 21 : 33). Sabda Tuhan itu selalu pasti, mengapa harus berpaling ke hal-hal lain di luar Allah?

Marilah berdoa,
Ya Tuhan semoga kami menjadi lebih peka pada tanda-tanda rohani di sekitar kami. Amin.

Selasa, 18 September 2007

Renungan Harian Bulan Oktober 2007


BERDOA BERSAMA MARIA

Dalam satu tahun, ada dua bulan yang didedikasikan kepada Bunda Maria. Yang pertama adalah Mei sebagai Bulan Maria dan Oktober yang kita sebut sebagai Bulan Rosario. Sungguh terasa istimewa kedudukan Maria dalam Gereja Katolik. Ia menjadi Bunda Pengantara Abadi. Devosi atau penghormatan terhadap perempuan sederhana ini sangat meluas hidup di kalangan umat beriman.
Dalam suatu pertemuan, seorang pastor paroki berkomentar tentang fenomena penghayatan iman umat parokinya. Ia berkata, “Mungkinkah kita salah dalam berkatekese?”
“Maksudnya?” tanya seorang rekan pastor lainnya.
“Ya. Saya bertanya-tanya penuh kekaguman dalam hati menyaksikan banyak umat di paroki saya berbondong-bondong ke bunda Maria setelah misa untuk berdoa pribadi. Tentu saja saya bangga umat kita memiliki devosi yang kuat terhadap bunda Maria. Mengapa yang berdoa di dalam gereja setelah misa di depan Yesus lebih sedikit daripada yang datang ke bunda Maria? Pikir saya, jangan-jangan kita telah salah berkatekese, bahwa bunda Maria lebih penting dan lebih menarik daripada Yesus?” begitu pastor paroki tersebut melontarkan gagasannya.
Tentu saja ungkapan pastor paroki tersebut bukan mempersalahkan orang Katolik yang berdevosi kepada bunda Maria. Di balik pertanyaan itu kita tahu, pastor tersebut bangga pada umatnya yang memiliki kebiasaan baik, berbondong-bondong ke bunda Maria setelah misa.
Memang bunda Maria telah terbukti menolong banyak orang yang datang padanya. Kita tahu, bahwa Tuhan Yesus tak mungkin cemburu pada bunda Maria yang banyak didatangi oleh umat beriman. Tuhan Yesus justru akan marah dan cemburu kalau kita datang pada dewa-dewi lain; datang ke gunung Kawi atau tempat-tempat lain yang menjanjikan penyelesaian persoalan-persoalan duniawi. Daripada datang ke tempat-tempat tersebut, bukankah kita sebaiknya datang dan berdoa bersama Maria?
Di tempat peziarahan Gua Maria Lourdes Poh Sarang Kediri, setiap malam Jumat Legi selalu ramai didatangi peziarah. Ketika masih studi Teologi, kami pernah mengadakan penelitian dan bertanya: mengapa Jumat Legi? Ternyata alasannya sepele. Yakni supaya orang-orang Katolik di Jawa Timur tak datang ke Gunung Kawi karena hari istimewa di sana adalah Jumat Legi juga. Penelitian Teologi Kontekstual kami mendapati kenyataan, bahwa ternyata ritual Gunung Kawi dihadiri ribuan orang setiap Jumat Legi. Ribuan orang itu bermacam-macam agamanya. Dan tentu saja banyak yang mengaku Kristen atau Katolik.
Jadi, mengapa datang ke tempat-tempat seperti itu? Bukankah Bunda Maria selalu dan siap sedia menerima kita, mendengarkan keluh kesah kita dan menghantarkan segala permohonan kita pada Yesus? Semoga kita semakin dekat dengan Bunda Maria. Selamat berziarah dalam iman yang benar.

Pengelola Renungan Harian JPIC SVD Distrik Jakarta


Senin, 1 Oktober 2007
Pesta St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan dan Pelindung Karya Misi
Yes 66:10-14c; Mat 18:1-5
========================================================

JALAN KECIL MENUJU KESUCIAN

Ada sementara orang berpikir bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mencapai kesucian. Mereka menyangka bahwa untuk menjadi kudus orang harus melakukan karya-karya besar. Padahal karya-karya besar belum tentu menghantar orang kepada kekudusan. St.Theresia dari Kanak-kanak Yesus mengajarkan bahwa semua orang bisa mencapai kesucian melalui jalan atau cara-cara kecil, sederhana dan biasa. Pekerjaan-pekerjaan kecil atau tugas-tugas sederhana jika dilakukan dengan cinta kasih yang murni kepada Tuhan akan lebih bernilai daripada karya-karya besar tanpa cinta kasih.
Selama masa hidupnya St. Theresia melakukan tugas-tugas kecil dan sederhana. Ia suka mengepel lantai, mencuci dan menggosok pakaian, mencuci piring, dan lain-lain. Bukankah Anda dan saya pernah melakukan tugas-tugas kecil itu? Ya, pasti pernah sekali dalam hidup, kalau bukan setiap hari. Tetapi apakah kita telah melakukannya dengan kasih? Atau kita kerjakan semua itu dengan rasa terpaksa, muka muram, dan tanpa sukacita?
St. Theresia mengatakan bahwa jika pekerjaan-pekerjaan kecil itu dilakukan tanpa kasih, maka semuanya hanya akan menjadi beban dan tidak membawa berkat bagi diri sendiri dan sesama. Tetapi jika dilakukan dengan kasih, maka semuanya akan terasa sangat ringan, dan lebih lagi akan menjadi berkat bagi orang lain.
Jadi, bukan besarnya tugas yang menyucikan jiwa seseorang. Melainkan besarnya cinta kasih selama melaksanakan tugas-tugas itulah yang menghantar orang itu pada kesucian. Kesetiaan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil adalah dasar untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Sejatinya, karya-karya besar adalah puncak dari karya-karya kecil yang dilakukan dengan kesetiaan dan cinta kasih.
Supaya bisa melakukan tugas-tugas kecil dan sederhana dengan kasih, kita harus memiliki kerendahan hati yang mendalam. Hanya orang yang rendah hati yang bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih. Orang yang tinggi hati akan merasa terhina kalau melakukan hal-hal sederhana dan kecil. Mereka lupa akan kebenaran ini: bukan besarnya tugas yang membuat orang mencapai kesucian. Melainkan kerendahan hati dan kasih dalam melaksanakan tugaslah yang membuat orang mencapai kesucian. Ingatlah kata-kata St. Yohanes dari Salib berikut ini: Di akhir hidup, semua manusia akan diadili berdasarkan cinta kasih.

Marilah berdoa,
Ya Yesus, ajarilah aku untuk menjadi rendah hati dan doronglah aku untuk melaksankan semua tugas dan pekerjaanku dengan kasih. Amin.


Selasa, 2 Oktober 2007
Pw Para Malaikat Pelindung
Za 8:20-23; Luk 9:51-56
=====================

ANDALKAN MALAIKAT PELINDUNGMU

Gereja mengajarkan bahwa ada malaikat. Malaikat adalah makhluk rohani yang diciptakan oleh Allah untuk melayani Allah. Kita tahu ada malaikat Agung (Arch Angels), Kherubim dan Serafim. Setiap malaikat mempunyai tugas khusus. Malaikat Gabriel membawa khabar gembira. Malaikat Mikhael memimpin pasukan tempur; dan malaikat Rafael bertugas untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat. Sedangkan para kherubim dan serafim bertugas untuk melayani, memuji dan menyembah Allah. Di samping itu, ada malaikat pelindung yang bertugas untuk melindungi kita.
Dalam Kitab Keluaran Allah berfirman:”Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan…” (Keluaran 23:22). Malaikat adalah utusan Allah yang bertugas untuk melindungi, membimbing dan menghantar kita sampai pada tujuan hidup kita.
Kepada setiap orang yang mengandalkan Allah, Ia akan mengutus para malaikatNya. Alkitab berkata: “Sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk pada batu. Singa dan ular tedung akan kau langkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga” (Mzm 90:11).
Yesus juga menegaskan apa yang dikatakan oleh para nabi sebelumnya: ”Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga” (Matius 18:10)
Malaikat Tuhan selalu memberikan kepada kita merasa aman dalam seluruh jalan hidup kita. Mereka akan selalu membentengi kita, kalau kita setia pada tuntunan mereka. Mereka menjauhkan segala sesuatu yang dapat mencelakakan atau membahayakan kita. Sesungguhnya, kita tidak pernah sendirian dalam hidup ini. Bila Anda merasa bahwa hanya Anda yang berjuang dan berjalan sendiri di dunia ini, Anda sebenarnya sangat keliru. Yang benar adalah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan Anda. Kapan dan di mana saja, Allah dan para malaikatNya tetap menjaga dan melindungi Anda. Apakah Anda setia kepada bimbingan mereka?


Marilah berdoa,
Malaikat Tuhan, engkau telah diserahi tugas oleh Tuhan untuk melindungi, menghantar dan membimbing aku selama aku di dunia ini sampai kepada hidup yang kekal. Ajarilah aku untuk mendengarkan dan mengikuti bimbinganmu. Amin.




Rabu, 3 Oktober 2007
Neh 2:1-8
Luk 9:57-62
================

IKUTILAH AKU

Iklan-iklan produk makanan dan minuman menawarkan kepada konsumen untuk membeli dan menikmati produknya seperti apa yang dilihat dan ditampilkan dalam iklan. Ternyata ada banyak konsumen membeli produk karena terpengaruh oleh iklan, hal itu dapat dikatakan bahwa pesan “Ikutilah aku” dari iklan telah tercapai.
Kehadiran Yesus dalam karya dan pelayanannya juga membuat banyak orang tertarik untuk mengikutinya. Tentunya ada banyak motivasi yang mereka bawa untuk mengikuti Yesus. Dalam kisah Injil hari ini orang datang kepada Yesus untuk mengikutinya, tetapi Yesus menantang kesungguhan kati dan niat mereka. “Ikutilah Aku” adalah sebuah undangan dan panggilan dari Yesus sendiri bagi setiap orang yang mau membuka diri dan hati untuk turut serta dalam karya keselamatan yang dilaksanakannya. Jawaban yang dituntut Yesus adalah jawaban tegas dan pasti dalam kebebasan dan tanpa pamrih.
Banyak orang mau mengikuti Yesus dengan menerima pembaptisan dan menjadi orang Kristen dan ada banyak yang berjuang sungguh-sungguh untuk mengikuti Yesus secara konsisten dan konsekwen. Namun jika kita jujur dan mau membuka mata pada realitas kehidupan ini ada banyak orang yang sudah berhianat dan meninggalkan Yesus karena merasa kecewa dengan Yesus yang tidak memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Ternyata pembaptisan hanya dijadikan kedok untuk “memaksa Yesus’ memenuhi keinginan hati pribadi. Tentu yang ada hanyalah kekecewaan. Karena sejak awal Yesus telah mengatakan bahwa Ia tidak memiliki harta kekayaan duniawi. Yesus dengan tegas juga mengatakan kalau mau mengikti dia harus meninggalkan segalanya dengan konsekwen dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada karya dan penyelenggaraan Allah.
Setiakah anda pada janji pembaptisan anda untuk menjawab undangan Yesus “Ikutilah Aku?” Atau adan telah menghianati Yesus dan “berselingkuh dengan kenikmatan dunia”? Mau mengikuti Yesus harus dengan niat yang tulus untuk mencari keselamatan dalam dia dan turut serta dalam karya penyelamatan Allah di tengah dunia. Kesetiaan pada Kristus dalam suka dan duka adalah panggilan seorang pengikut Kristus. Siapa yang setia akan menerima ganjaran keselamatan abadi.


Marilah berdoa,
Ya Kristus bantulah kami untuk setia mengikuti dikau dalam segala keadaan hidup kami.
Kuatkan kami dalam menghadapi godaan dunia ini
sehingga kami layak menerima keselamatan abadi.
Amin

Kamis, 4 Oktober 2007
Peringatan St. Fransiskus Asisi
Neh 8:1-4,6-7,8b-13; Luk 10:1-12
========================

SALAM DAMAI SEJAHTERA

Ketika merayakan ekaristi kita diundang untuk memberikan salam damai dengan maksud untuk saling mengampuni dan membagi damai sejahtera. Tetapi sayang damai yang disampaikan kerap dilakukan karena formalitas, tanpa ekspresi, kering, tanpa senyum dan tanpa melihat orang yang diberikan salam damai. Inikah damai sejahtera yang Yesus maksudkan untuk kita lakukan dan bawa dalam kehidupan kita sehari-hari??
Yesus mengutus murid-muridnya ketengah-tengah kehidupan masyarakat Yahudi, yang tentunya memiliki sikap-sikap yang berbeda, ada yang menerima dan menolak ajaran Yesus. Yesus meminta para murid untuk memberi dalam damai kepada setiap orang dalam rumah yang mereka masuki. Damai itu menjadi berkat bagi mereka yang menerima para murid. Tentunya ada yang menerima dan menolak kehadiran para murid, tapi tidak menyurutkan para mudir untuk mewartakan kabar keselamatan dan damai sejahtera bagi orang-orang Yahudi. Para murid diutus dalam kepasrahan kepada karya dan penyelenggaraan Allah supaya setiap orang boleh menerima keselamatan dan damai sejahtera.
Kita yang mengimani dan menjadi pengikut Kristus juga menerima tugas dan tanggungjawab perutusan yang sama. Membawa damai sejatera dan keselamatan ditengah kehidupan kita dan bagi dunia. Menjadi pertanyaan besar; bagaimana mungkin kita membawa damai sejatera kepada orang lain kalau kita sendiri tidak mengalami damai sejahtera dalam relasi iman kita dengan Kristus? Para murid telah lebih dahulu mengalami damai sejahtera bersama Yesus dan membuka diri dan hati untuk menerima tugas perutusan membawa damai sejahtera kepada orang lain.
Kini adalah juga tugas kita berusaha dengan sungguh-sungguh membuka diri terhadap karya dan kehendak Allah. Bekerjasama dengan Yesus sendiri untuk menjadi murid yang taat dan setia dalam kehidupan iman dan harian kita. Membiarkan Allah yang menggunakan diri kita sebagai penyalur kasih dan damai sejahteranya ditengah keluarga dan kehidupan bangsa kita. Disisi lain kita juga harus siap untuk mengalami peristiwa penerimaan dan penolakan dari dunia yang saat ini sudah sangat memprihatinakan, yang dipenuhi kebendian, dendam dan dosa. Tugas kita adalah tetap setia membawa damai sejahtera dan keselamatan bagi mereka.
Apakah saya sudah membawa damai sejahtera dan keselamatan dalam keluarga dan lingkungan hidup saya. Bukalah hati, budi dan pikiran anda untuk menjadi alat Kristus dalam karya penyelamatan dunia.

Marilah berdoa,
Ya Allah, kuatkan kami dalam mewartakan damai sejatera dan keselantanMu di tengah kehidupan keluarga dan lingkungan hidup kami. Amin



Jumat, 5 Oktober 2007
Bar 1:15:22
Luk 10:13-16
=================

KECAMAN TERHADAP KOTA-KOTA

Tata perilaku yang berlaku di sebuah kota atau tempat menunjukkan mentalitas orang-orang yang mendiaminya. Kota yang tertata rapi, bersih, tertib dan aman niscaya menunjukkan bahwa aparat dan rakyat kota tersebut juga memiliki kebiasaan yang baik. Sebaliknya kota yang kotor, mencekam dan semrawut menandakan bahwa penduduknya suka membuang sampah sembarangan, tidak berdisiplin dan segala macam perilaku negatif lainnya.
Tak dapat disangkal lagi jika hendak melihat perilaku dan sifat orang-orang yang diam di sebuah tempat, lihatlah cara mereka menata kota mereka. Paradigma semacam ini sering kita jumpai pula dalam Alkitab. Ada kategori kota yang baik dan kota yang jahat. Terdapat kota damai, namun ada pula kota maksiat.
Rupanya seperti itulah yang terjadi ketika Yesus mengucapkan kecaman terhadap kota-kota. “Celakalah Khorazim...Celakalah Betsaida...” Apa yang diucapkan Yesus dengan keras itu merupakan reaksiNya atas penolakan mereka terhadap Dia yang adalah Sang Juru Selamat.
Tentu saja sama seperti manusia, sebuah kota juga dapat bertobat. Keadaan yang semrawut tak tertata sangat mungkin diubah menjadi lebih baik dengan pembangunan. Dengan demikian, ketika Yesus melancarkan kecaman terhadap kota-kota itu sesungguhnya yang Ia kehendaki adalah pembangunan mentalitas manusianya. Dengan kata lain, Ia mengajak orang-orang bertobat dan menerima Kabar Baik dariNya.
Pembangunan mentalitas manusia dapat dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Keuskupan Agung Jakarta saat ini sedang mengadakan sebuah gerakan mencintai lingkungan yang bersih. Dihimbau kepada umat Katolik untuk membiasaka diri membuang sampah pada tempatnya dan kalau perlu berdisiplin memisahkan sampah organik dan non organik. Mungkin kita menilai kebijakan tersebut bukan hal yang baru atau bahkan sepele. Sesungguhnya salah lah penilaian kita. Ajakan mencintai kebersihan bukanlah sesuatu yang sepele, sebab terkait erat dengan penghayatan iman. Mengupayakan lingkungan yang bersih adalah sebagian usaha terlibat dalam karya penciptaan Allah, sebab bukankah pada awalnya Tuhan menciptakan segala sesuatu itu BAIK ADANYA?
Mari kita dukung kebijakan semacam itu dengan niat sungguh-sungguh memperbaiki diri kita. Komitmen kuat perlu dibangun di antara para orang tua supaya mereka senantiasa mengajarkan dan mengingatkan anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya dan mencintai kebersihan. Merombak mentalitas lama yang buruk secara serempak dan bersama-sama niscaya akan menyebabkan kota dan lingkungan hidup kita berubah. Percayalah...

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga kami rela menyumbangkan sesuatu yang baik demi kesejahteraan bersama dengan bersungguh-sungguh mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk kami. Amin.





Sabtu, 6 Oktober 2007
Bar 4:5-12,27-29
Luk 10:17-24
===========================================================================

DISEMBUNYIKAN BAGI ORANG BIJAK DAN PANDAI

Tukul Arwana yang menjadi tokoh acara TV Empat Mata pernah diledek oleh bintang tamunya. Tukul dikatakan sebagai orang yang sok pintar. Menanggapi ledekan itu Tukul tidak marah. Ia berkilah, “Gakpapa sok pintar, wong kenyataannya bodo. Itu lebih baik daripada jadi orang pintar tapi kerjaannya mbodohin orang.”
Kehidupan kita sehari-hari seringkali dipenuhi obsesi untuk mengejar kepintaran. Dalam fenomen semacam itu banyak orang tua yang rela mengeluarkan biaya banyak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Tujuannya tentu saja agar anak-anak menjadi pintar.
Betapa bangganya orang tua yang mendapati anak-anak mereka bertumbuh menjadi cerdas dan pintar. Tentu saja upaya menjadikan anak-anak kita pintar tidak lah salah. Hanya saja seringkali kita lupa bahwa fokus kepintaran itu tidak hanya pada kepintaran intelektual. Seringkali kita menyangka bahwa kepandaian intelektual adalah jaminan untuk menjadi orang sukses dan besar.
Banyak orang pandai dan pintar di negeri kita ini, tapi sayangnya seperti yang dikatakan oleh Tukul itu banyak pula orang pintar itu yang pekerjaannya membodohi orang lain demi keuntungan pribadi. Orang-orang besar dan pintar menganggap rakyat bodoh dan tak tahu apa-apa. Mereka menipu rakyat dengan membuat kebijakan-kebijakan yang tak pro-rakyat.
Yesus mengkritik cara hidup yang demikian itu. Ia mengecam orang-orang yang menganggap diri bijak dan pandai tapi tidak mau membuka diri terhadap Kebenaran Ilahi yang diwartakan Yesus dan para muridNya. Pengalaman hidup Yesus menunjukkan bahwa justru orang-orang kecil dan sederhana lah yang memperoleh suka cita dan kebahagiaan karena menerima dengan tulus Kabar Gembira Tuhan.
Rahasia iman seringkali tak dapat menembus otak dan kepintaran manusia. Mereka yang pandai dan merasa diri bijak tak membutuhkan Tuhan. Mereka menyangka bahwa kepandaian itu dapat menolong mereka.
Tentu saja renungan ini tak hendak mengajak kita menjadi orang bodoh. Mengupayakan kepandaian dan kebijaksanaan tetap perlu bagi kita, hanya saja jangan sampai kita menjadi pongah dan membodohi orang lain dengan kepintaran yang kita miliki. Kepandaian dan kebijaksanaan perlu diimbangi dengan kerendahan hati di hadapan Tuhan bahwa Dialah Sang Sumber Pengetahuan Sejati. St. Paulus pernah berkata bahwa salib bagi para pengikut Kristus itu bisa jadi merupakan kebodohan menurut kriteria orang Yunani. Tapi bukankah Yesus sendiri rela dianggap sebagai penjahat hina dan memikul salib, padahal kita tahu bahwa Dia adalah Putera Allah. Semoga hidup kita menjadi lebih bahagia karena kesanggupan kita rendah hati rela dianggap bodoh orang lain yang menganggap diri mereka pintar.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga kami senantiasa menjadi rendah hati dan tak mengandalkan kepandaian manusiawi kami. Amin.


Minggu, 7 Oktober 2007
Pekan Biasa XXVII
Hab 1:2-3,2:2-4; 2Tim 1:6-8,13-14; Luk 17:5-10
===========================================================================

KAMI HANYALAH HAMBA-HAMBA YANG TAK BERGUNA

Dalam dunia manajemen, pujian merupakan tindakan yang sangat penting untuk meningkatkan kinerja. Jika seorang pemimpin melihat karyawannya telah berprestasi atau melakukan sesuatu yang baik dalam kerjanya, pujian selayaknya diberikan padanya. Tentu saja reward atau imbalan yang pantas juga dapat diberikan secara material, entah dengan memberikan bonus ataupun kompensasi lainnya. Meski begitu, terbukti secara psikologis pujian yang tulus akan memberikan efek positif untuk maju dan berkembang selanjutnya.
Tentu akan menjadi sebuah persoalan juga ketika motivasi yang mendasari seseorang adalah pujian. Yang seperti itu pun tidak lah ideal sebab bisa jadi ia akan menjadi tidak bersemangat kalau tidak ada orang memberikan pujian padanya.
Injil hari ini memberikan pengajaran tentang kerendahan hati. Ajaran Yesus bukannya melawan prinsip manajemen modern ketika Ia mengatakan bahwa kita hanyalah hamba-hamba yang tak berguna; yang hanya melakukan apa yang harus kita lakukan. Dengan pernyataanNya itu, Yesus hendak mengingatkan kita agar tidak haus pujian manakala kita melakukan yang baik dan berprestasi dalam apa saja yang kita lakukan.
Ketika kita dipuji, ya kita mengucap syukur. Tetapi jika tak ada pujian atas perbuatan baik kita, hendaklah kita tidak kecewa dan tak mau lagi berbuat baik. Ada begitu banyak orang di sekitar kita yang sesungguhnya telah menjalani nasihat Yesus ini, yakni dengan rendah hati dan rela tersembunyi melakukan tugas dan kewajibannya tanpa haus akan publikasi.
Adalah seorang misionaris Belanda yang bertahun-tahun tekun tinggal di rumah kecil dan jauh dari hingar bingar. Dari hari ke hari ia bertekun dengan teks-teks sastra Jawa kuno, menyalin serta menerjemahkan serta menafsirkannya. Ya, dia adalah romo Zoetmoulder, SJ, seorang misionaris dan ilmuwan sastra Jawa kuno dari Yogyakarta.
Hidupnya mengalir dengan begitu sederhana, tanpa publikasi dan tebar pesona pujian di sana sini. Dia menghayati askese sebagai seorang empu-ilmuwan yang rela tinggal di sebagian rumah pastoran Kumetiran. Ia konsisten dengan tugas yang diembannya. Memang pujian pernah juga ia terima dari kalangan cendekiawan dan pecinta sastra Jawa kuno. Tapi saya yakin seratus persen, pastilah bukan karena pujian itu yang mendorongnya menulis ratusan buku dan artikel berbobot dan akhirnya menghasilkan karya monumental kamus Jawa kuno. Bisa jadi sabda Yesus lah menjadi daya pendorongnya dalam berkarya: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, berilah kami daya dorong untuk menghasilkan sesuatu yang baik, bukan karena mengharapkan pujian semata, tetapi terlebih karena kerendahan dan ketulusan kami melakukan segala sesuatu dalam namaMu. Amin.




Senin, 8 Oktober 2007
Yun 1:1-17
Luk 10:25-37
===========================================================================

BELAS KASIH TERHADAP SESAMA UKURAN MEMPEROLEH HIDUP KEKAL

Penginjil Lukas menganggap penting arti belas kasih terhadap sesama yang miskin dan lemah. Ia mendokumentasikan banyak perumpamaan indah yang diajarkan oleh Yesus. Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati adalah salah satu perumpamaan indah yang terdapat dalam Injil. Perumpamaan ini diletakkan dalam konteks pertanyaan seorang ahli Taurat yang hendak mencobai Yesus. Ia bertanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Jelas sekali topik utama pertanyaan itu adalah hidup kekal. Setelah itu Yesus bercerita tentang orang Samaria yang baik hati; yang menolong seorang yang menjadi korban perampokan. Orang Samaria inilah yang kemudian disebut sebagai sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun. Sementara itu dua orang lain yakni seorang imam dan Lewi yang lewat begitu saja di hadapan korban perampokan tidak termasuk sebagai sesama. Kesimpulannya jelas; kalau mau memperoleh hidup kekal; pergilah dan perbuatlah seperti orang Samaria itu.
Dari apa yang dikatakan oleh Yesus itu menjadi jelaslah inti pesan Injil, bahwa terdapat hubungan erat dan signifikan antara belas kasihan terhadap sesama yang menderita dengan hidup kekal. Juga dalam kisah Lazarus yang miskin dan orang kaya, kita dapat menyimpulkan mengapa pada akhirnya orang kaya itu tidak dapat menikmati pangkuan bapa Abraham dan keadaan setelah kematiannya tersiksa di api neraka. Penyebabnya adalah karena ia menutup mata terhadap penderitaan Lazarus selama di dunia. Lazarus tiap hari ada di depan pintu rumahnya, mengharapkan serpihan roti yang tersisa dari meja perjamuan, tapi tak ada tindakan dari orang kaya itu untuk menolong Lazarus. Terhadap orang miskin tak ada solidaritas, maka tak ada hidup kekal yang menyenangkan.
Menolong sesama yang sedang jatuh, sengsara dan miskin adalah sesuatu yang penting dalam hidup kita. Begitu pentingnya aktivitas tersebut sehingga Yesus berkali-kali mengingatkan korelasinya dengan hidup kekal. “Barangsiapa melakukan sesuatu untuk salah seorang saudaraKu yang hina ini, dia melakukannya untukKu,” demikian Yesus pernah bersabda.
Sungguh, ukuran mencintai dan mengasihi Tuhan dapat dilihat dari praktek hidup kita terhadap sesama yang menderita. Sudahkan kita memiliki compassion (belas kasih)? Kalau kita hendak mengukur cinta kita terhadap Dia, cintailah sesama kita tanpa ukuran, terutama mereka yang sedang ditimpa kemalangan dan membutuhkan pertolongan kita.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, berilah kami senantiasa kepekaan hati menolong sesama yang membutuhkan pertolongan sehingga dengan demikian kami boleh menikmati janjiMu, yakni memperoleh hidup kekal. Amin.






Selasa, 9 Oktober 2007
Yun 3:1-10
Luk 10:38-42
===========================================================================
BERSAING MEREBUT HATI YESUS

Adalah seorang pemuda yang sering “main” ke rumah salah satu keluarga tidak jauh dari tempat kerjanya. Ternyata di rumah keluarga itu ada dua orang puteri kakak-beradik. Keduanya cantik dan lincah. Pemuda itu berpikir-pikir bagaimana cara menemukan strategi jitu agar salah satu dari dua puteri itu akan terjaring untuk menjadi tambatan jantung-hatinya. Untuk meraih tujuan tersebut pemuda itu mulai ikut-ikut kegiatan di lingkungan. Bakat main gitar dan pintar menyanyi membuat dia semakin dikenal oleh umat di lingkungan. Ketua seksi liturgi lingkungan meminta kesediaannya untuk menjadi dirigen koor lingkungan. Tawaran itu diterimanya dengan penuh sukacita. Pintu masuk untuk meraih idamannya terbuka lebar! Dua orang gadis beradik-kakak yang cantik lagi lincah itu adalah dua puteri dari Ketua Seksi Liturgi Lingkungan. Keduanya aktif sebagai anggota koor lingkungan. Suara keduanya pun aduhai! Maka, singkat kata, proses rajut-merajut tali-temali jaringan kasih antara pemuda sang dirigen dengan kedua puteri itu terjadilah. Bersaing merebut hati sang pemuda bersemilah dalam lubuk hati kedua sang puteri. Yesus bersama murid-muridNya sering “main” ke rumah Marta dan Maria. Yesus sangat mencintai mereka. Rupanya mereka sadar betul rumah mereka bagi Yesus bagaikan oasis penuh kesejukan dan kenyamanan. Yesus membutuhkan suasana sejuk dan nyaman, sekadar melepas rasa letih, setelah sibuk berkeliling berbuat baik. Yesus membutuhkan kekuatan agar dapat melanjutkan misiNya yang segera mencapai puncaknya di Yerusalem. Yesus sangat mendambakan Marta dan Maria sungguh-sungguh merasakan pergulatan batinNya dan bahkan mendukung dengan sepenuh hati apa yang sedang diperjuangkan Yesus, yakni berhasil tuntas memenangkan terwujudnya kehendak Allah, yang merupakan tujuan tunggal tugas perutusanNya untuk keselamatan manusia. Marta dan Maria bersaing merebut hati Yesus yang sedang “bergundah-gulana” membayangkan peristiwa penyaliban yang akan segera menimpa diriNya. Apa boleh buat, “persaingan” dimenangkan oleh Maria. Dia mendapat bagian yang terbaik, karena manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk dekat dengan Yesus dan dengan penuh perhatian mendengarkan curahan hati Yesus. Marta sibuk dengan urusan dapur (perut). Itu baik, tetapi tidaklah cukup. Karena itulah dia dapat teguran dari Yesus. Dengan itu dia disadarkan agar waktu untuk mendekatkan diri pada Yesus, mendengarkan dan meresapkan firmanNya harus mendapat prioritas. Hanya dengan begitu kesibukannya menjadi bermakna. Bagaimana dengan anda? Mampukah anda merebut hati Yesus? Berani bersaing dengan Maria? Silakan! Tetapi daripada kalah bersaing, sebaiknya anda dengan rendah hati belajar dari cara Maria mendapatkan bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya, yaitu selalu siapkan waktu untuk dekat dengan Yesus, rajin merayakan ekaristi, tekun berdoa, setia merenungkan firman Tuhan dan dengan teguh hati menghayatinya.

Marilah berdoa,
Tuhan Yesus, semoga aku selalu dapat memilih bagian yang terbaik, seperti Maria. Amin.


Rabu, 10 Oktober 2007
Yun 4:1-11
Luk 11:1-4
===========================================================================

BAPA MAMA AJARLAH KAMI BERDOA

Hai, para bapa dan ibu, pernahkah mendengar putera-puterimu meminta seperti ini: “Bapa mama, ajarlah kami berdoa?” Anda sebagai bapa dan ibu merasa bangga dan berbahagia kalau putera-puterimu meminta untuk diajarkan berdoa. Sebaliknya, merasa sedih kalau putera-puterimu tidak pernah meminta untuk diajarkan berdoa! Kalau putera-puterimu tidak pernah meminta seperti itu, siapakah yang harus bertanggung jawab? Resapkan makna pernyataan ini: “Bapa ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya!” Apa yang wajib bapa dan ibu lakukan agar putera-puterimu pada waktunya mendekatimu dan meminta untuk diajarkan berdoa? Cinta akan doa atau kebiasaan berdoa itu harus ditanamkan dalam diri putera-puterimu sejak mereka dilahirkan. Bagaimana itu bisa terwujud? Cinta akan doa atau kebiasaan berdoa harus lebih dahulu membudaya dalam diri dan hidup bapa dan ibu. Cara berdoa bapa dan ibu harus berdaya pikat, mampu menarik minat putera-puterimu sedemikian rupa sehingga mereka secara spontan minta kepadamu: “Bapa mama, ajarlah kami berdoa!” Murid-murid Yesus sering menyaksikan Yesus berdoa. Yesus tidak hanya sibuk berkeliling mewartakan kerajaan Allah sambil berbuat baik, tetapi juga menyendiri ke tempat sunyi untuk berdoa. Bagi Yesus berdoa itu adalah suatu aktivitas yang menjadi puncak dari semua aktivitasNya yang lain. Yesus berdoa tidak sekadar mengisi waktu luang. Berdoa bagi Yesus adalah kebutuhan yang mendarah-daging, yang erat melekat pada hati batinNya. BagiNya aktivitas berdoa itu adalah roh yang menjiwai seluruh kegiatanNya dan kunci keberhasilanNya dalam mengemban tugas perutusan sebagai Almasih. Tentu murid-muridNya akhirnya merasa sangat terkesan dengan seringnya dan caranya Yesus berdoa. Yesus tidak mengajarkan murid-muridNya berdoa dengan cara menggebu-gebu. Dia tidak memaksakan keinginanNya. Biarlah murid-muridNya yang mengambil inisiatif meminta untuk diajarkan doa. Begitulah yang terjadi sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini. Salah seorang murid-muridNya minta kepadaNya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa!” Permintaan ini disampaikan setelah Yesus berdoa di salah satu tempat. Atas permintaan tersebut, Yesus akhirnya menyingkapkan rahasia doaNya. Ternyata Yesus memiliki doa yang sangat istimewa, yakni doa “BAPA KAMI”. Doa ini punya daya pikat luar biasa dan daya tembak jitu yang menohok jantung kerahiman Allah Bapa. Doa BAPA KAMI adalah jantung dan acuan segala doa. Doanya padat, singkat, jelas dan bernas isinya. Doa ini seakan menegur orang yang suka bertele-tele dalam doanya seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah (bdk. Mat.6:7). Doa BAPA KAMI hendaknya menjadi acuan semua doa kita. Dalam berdoa kita berhadapan dengan Allah sebagai Bapa kita yang mahabaik. Ungkapkan saja dengan polos inti harapan dan kerinduan kita, yakni: agar Nama Allah dikuduskan, KerajaanNya datang ke dunia ini. Allah Bapa kita yang mahabaik itu pasti akan memperhatikan kebutuhan mendasar kita, yaitu: rejeki setiap hari secukupnya, pengampunan atas dosa-dosa kita serta dijauhkan dari segala pencobaan.

Marilah berdoa,
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin
.

Kamis, 11 Oktober 2007
Mal 3:13-4:2a
Luk 11:5-13
===========================================================================
MINTA DAN DAPAT

Orang berkata, “jika anak minta ikan, berilah kail.” Kalimat itu memang bagus, maksudnya juga bagus. Tetapi kerap kali karena pemikiran segalanya harus instan, maka lebih sering yang diharapkan adalah ikannya, bukan kailnya. Demikian pun dalam hal meminta kepada Bapa Surgawi. Sering kali ketika meminta, kita berharap bahwa Dia akan memberi apa yang kita minta. Kita berharap bahwa Dia akan memberi seperti yang kita harapkan.
Pengalaman dalam doa, mengajarkan pada kita bahwa Tuhan amat jarang memberi “ikan”. Dia lebih sering memberi “kail” yang mungkin malah kail dalam kondisi yang belum dipasang. Sering kali kail yang Dia beri, berupa kail dalam kondisi yang belum siap pakai. Ketika kita berharap mendapat bunga dan kupu-kupu yang indah dalam kehidupan ini, ternyata lebih sering kita mendapatkan kaktus berduri dan ulat dalam hidup. Kita mengharapkan yang indah dan baik, tetapi justru duri derita dan kejijikan dalam ulat yang kita dapatkan. Pemikiran segalanya harus instan, mengacaukan pandangan kita. Maka, ketika menerima kaktus dan ulat itu, kita menjadi patah semangat. Padahal jika kita bersabar, bertekun, maka kaktus itu juga akan menghasilkan bunga yang amat langka dan ulat itu akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah.
Betapa sering kita menjadi orang yang tak sabar dalam mengharapkan bantuan rahmat Ilahi. Gambaran kita adalah “Tuhan akan memberi seperti yang kita bayangkan” karena Dia berkata,”jika kamu meminta, kamu akan mendapat.” Alangkah baiknya bila kita membuka mata hati kita untuk mengerti bahwa Tuhan memang selalu menjawab doa kita. Tetapi kita hendaknya sadar bahwa Tuhan lebih sering memberi kita “kail”, bukan “ikan”nya. Kita berdoa namun juga berusaha supaya kail itu menghasilkan ikan.

Aku meminta kekayaan agar aku bahagia,
namun Dia memberi kekurangan agar aku bijaksana.
Aku minta kuasa agar aku dipuja,
namun Dia memberiku kelemahan agar aku tergantung padaNya.
Aku minta segala sesuatu agar aku menikmati kehidupan,
namun Dia memberiku kehidupan, agar aku menikmati kehidupan.
Aku minta kesehatan agar aku mengerjakan yang lebih besar,
namun Dia memberiku anugerah agar mengerjakan yang lebih baik.
Aku tidak selalu mendapatkan apa yang aku minta,
tetapi aku tahu, bahwa doaku selalu terjawab”


Marilah berdoa,
Ya Yesus, ajarilah kami berdoa dengan tekun dan sabar. Amin
.


Jumat, 12 Oktober 2007
Yl 1:13-15
Luk 11;15-26
===========================================================================

SETAN DAN TUHAN

Emily, seorang yang meninggal karena kerasukan setan. Imam yang membantu dia terlepas dari cengkeraman setan malah dituduh sebagai pembunuh yang menyebabkan kematian Emily. Stigmata yang ada pada tubuh Emily dianggap oleh jaksa penuntut sebagai akibat dari sakit ayan yang dideritanya. Akibatnya, imam yang mendampinginya harus diadili. Melihat dari data dan fakta, penuntut menang karena jejak data kekuasaan ilahi tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Pembela tidak dapat menunjukkan bukti bahwa memang benar imam itu membantu dalam soal yang bersifat mistik. Meskipun secara nyata keterlibatan alam mistik Ilahi dapat dirasakan, tetapi data ilmiah tidak dapat mendukung. Akhirnya, imam itu diputuskan bersalah tetapi tidak menjalani hukuman penjara. Persoalan apakah Emily adalah seorang penderita ayan atau seorang kudus yang amat menderita karena mendapat tanda sengsara Tuhan dapat diputuskan sendiri ketika seorang berkunjung ke pusaranya dan menikmati buah penderitaannya.
Eksorsisme memang praktek Gerejani yang tetap relevan sampai sekarang. Banyak orang bersikap seperti penuntut dalam film “exorcism” dan minta data ilmiah tentang tanda-tanda kerasukan setan. Sementara beberapa orang lain berpikir bahwa tanda-tanda mistis keterlibatan iblis juga merupakan hal yang nyata dan harus diperangi secara mistik Kristiani.
Yesus juga dituduh sebagai seorang pelaku eksorsis. Persoalannya, orang menilai Dia melakukannya dengan kekuatan Iblis. Menilai kekuatan iblis dan kekuatan Tuhan, mungkin tidak selalu mudah. Kadang timbul penilaian bahwa jika segalanya tampak baik, maka itu adalah pekerjaan Tuhan, sedangkan bila terjadi sebaliknya, itu adalah pekerjaan iblis. Itulah salah satu penyesat dalam meletakkan kepercayaan. Padahal Tuhan tidak selamanya membuat kita sehat. Tuhan juga tidak selamanya membuat kita tidak harus memikul salib. Bahkan kita sudah diperingatkan, siapa yang mau mengikuti Dia, harus siap memikul beragam bentuk salib kehidupan. Betapa sering kita menduga bahwa penderitaan adalah tanda pekerjaan iblis atau tanda bahwa Tuhan amat jauh. Hal yang terjadi bisa sebaliknya. Justru ketika mengalami hal yang baik dan menyenangkan kita harus lebih waspada dan bertanya, apakah itu pekerjaan iblis atau pekerjaan Tuhan?
Orang pada zaman Yesus juga bertanya-tanya, kekuatan apakah yang dipakai oleh Yesus. Apakah itu kekuatan Ilahi atau kekuatan Iblis? Tetapi dari buahnyalah kita bisa menilai apakah kebaikan itu dari Tuhan atau dari iblis.

Marilah berdoa,
Ya Yesus, lingkupilah kami dengan kekuasaan IlahiMu.
Jangan biarkan kami terjebak dan bersandar pada kekuasan beelzebul.
Amin.






Sabtu, 13 Oktober 2007
Yl 3:12-21
Luk 11:27-28
===========================================================================
ALLAH SUMBER KEBAHAGIAAN

Hidup dalam kebahagiaan merupakan hal yang amat didambakan manusia. Untuk maksud ini manusia terus berjuang mewujudkannya. Tentang kebahagiaan seringkali ada perbedaan pemahaman pada masing-masing orang. Sebetulnya hal penting yang perlu disadari bahwa kebahagiaan itu berkaitan dengan disposisi batin manusia. Karena itu, kebahagiaan selalu dimengerti sebagai situasi batin dimana orang merasa damai, tenang, nyaman, senang/sukacita, dan seterusnya.
Ketika seorang wanita menyatakan kepada Tuhan Yesus: “ Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau ”; Tuhan Yesus menyatakan: “ Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanNya.” Pernyataan dari Tuhan Yesus ini menunjukkan bahwa sumber kebahagiaan manusia itu adalah Allah sendiri. Agar manusia mengalami kebahagiaan, maka Allah menuntun manusia dengan firmanNya sendiri. Oleh karena itulah Tuhan Yesus mengatakan, “ Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya.”
Seruan ini jelas mengisyaratkan umat manusia bahwa firman Allah tidak hanya sekedar didengar atau dibaca. Lebih jauh dari itu, firman Allah harus dipelihara dan dilaksanakan dalam hidup. Dalam kesungguhan memelihara dan melaksanakan firman Allah, lambat laun menghantar manusia menemukan makna hidupnya dalam terang firman itu sendiri.
Seringkali manusia kehilangan kebahagiaan. Sebab utama dari hal ini adalah karena orang mencari atau mengusahakan kebahagiaan pada sumber-sumber yang sementara sifatnya. Memang penting bahwa manusia berjuang agar hidupnya menjadi lebih kaya; mengemban jabatan/pangkat tertentu sebagai panggilan hidup; mengupayakan status sosial yang layak sebagai perwujudan dari keluhuran martabat. Tetapi harus tetap diingat bahwa semua hal ini adalah sarana dan bukan tujuan dalam hidup. Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan; dan seperti yang telah diungkapkan di atas, sumber kebahagiaan adalah Allah sendiri. Maka, barangsiapa mendambakan kebahagiaan datanglah kepada Allah; dengarkanlah firmanNya dan laksanakan itu dalam hidup.
Dengan banyaknya gerakan-gerakan iman sekarang ini, maka hampir dapat dipastikan kita banyak membaca firman Tuhan dalam Kitab Suci dan menggumuli isinya.
Persoalannya, apakah kita melaksanakan firman Tuhan itu dalam hidup? Kalau firman Tuhan sudah kita laksanakan, apakah hal tersebut kita laksanakan dengan tekun dan konsisten?

Marilah berdoa,
Allah Sang Sumber Kasih, bantulah kami dengan RohMu yang kudus, agar selalu terdorong mencari makna hidup dalam firmanMu. Semoga firmanMu menuntun kami dan mengarahkan jalan hidup, sehingga akhirnya kami menemukan kabahagiaan hidup. Dikaulah sumber hidup kami, kini dan sepanjang segala abad. Amin.




Minggu, 14 Oktober 2007
Pekan Biasa XXVIII
2Raj 5:14-17; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19
===========================================================================
YESUS KRISTUS CINTA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN

Dalam pandangan lama bangsa Yahudi penyakit kusta dilihat sebagai penyakit yang menajiskan. Karena itu orang yang berpenyakit kusta harus diasingkan dan hidup terbuang di luar komunitas. Apabila mereka berpapasan dengan orang lain, maka dari jauh mereka harus berteriak najis agar orang tidak mendekat. Seringkali mereka dilempari batu supaya menjauh dari sesamanya. Dengan perlakuan seperti ini mereka tidak hanya mengalami penderitaan fisik tetapi juga penderitaan bathin yang sangat mendalam.
Haruskah mereka mengalami situasi terpuruk seperti ini? Sebenarnya tidak; apabila orang lain memahami dan mau solider dengan mereka. Perlakuan yang mereka terima justru sebaliknya.
Dalam kondisi seperti ini hasrat untuk sembuh demikian kuat. Maka ketika Yesus lewat, mereka memohon, “Yesus guru kasihanilah kami.” Lalu Yesus menyuruh mereka: “Pergilah perlihatkan dirimu kepada imam-imam.” Dalam perjalanan mereka sembuh. Akan tetapi walaupun mereka mendapat rahmat kesembuhan secara luar biasa, namun hanya satu orang dari mereka yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur. Dia itu orang kafir.
Dalam peristiwa penyembuhan ini nampak jelas kuasa Allah yang penuh kasih. Pengalaman akan kasih Allah melalui Tuhan Yesus tidak hanya dialami oleh orang-orang kusta itu hanya pada saat mereka merasa dirinya sembuh. Pengalaman kasih Allah mereka rasakan ketika Tuhan Yesus mau mendengarkan mereka, berdialog dan datang dekat pada mereka. Perlakuan seperti ini amat berbeda dengan perlakuan sesamanya.
Kekuatan cinta Allah yang mampu membebaskan manusia dari situasi keterpurukan seharusnya mendorong manusia untuk bersyukur kepada Allah. Dari cerita tentang sepuluh orang kusta kenyataanya lain. Hanya satu dari mereka (orang kafir ) yang datang kepada Yesus untuk bersyukur. Sembilan yang lain berjalan terus dan tidak pernah kembali lagi untuk bersyukur. Lalu Yesus bertanya: “Di manakah sembilan orang yang lain, bukankah mereka juga telah sembuh? “
Kadang-kadang manusia berpikir bahwa dengan pertanyaan ini seolah-olah Tuhan Yesus menuntut. Dalam arti tertentu bisa benar demikian. Tetapi kita juga bisa mengartikan pertanyaan di atas sebagai bentuk pendekatan dari Tuhan sendiri yang mau mengarahkan manusia agar menyadari penyelenggaraan Allah dalam hidup. Artinya kebaikan yang manusia alami dalam hidup bukanlah semata-mata karena kehebatan dan hasil dari kerja manusia semata-mata. Kebaikan itu dialami justru karena Allah bermurah hati. Karena itu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah mutlak sifatnya.
Rahmat kesembuhan yang dialami orang kusta sebagaimana diceritakan dalam Injil adalah tanda kasih Allah. Kasih Allah dialirkan kepada masing-masing orang dalam banyak bentuk. Ada yang mengalami kasih Allah dalam bentuk perkembangan usaha, suasana rumah yang baik dan bahagia, anak-anak yang baik dan cerdas, lingkungan hidup yang nyaman dan suasana kebersamaan yang penuh persaudaraan, terbebas dari masalah-masalah yang rumit, dll.
Kita bersyukur untuk semuanya itu, kita perlu selalu sadar untuk tidak melewatkan hari-hari hidup dengan rasa bangga dan gembira tanpa kembali untuk bersyukur kepada Dia yang telah memberikannya.
Maka kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing apakah kita telah menjadi seperti satu orang kusta yang kafir? Atau seperti sembilan orang kusta lainnya yang setelah mengalami kesembuhan tidak kembali lagi kepada Yesus?

Marilah berdoa,
Allah yang Maha Baik, banyak rahmat telah kami terima dari padaMu. Seringkali kami larut dalam kegembiraan dan tenggelam dalam banyak kesibukan, sehingga tidak datang untuk bersyukur kepadaMu. Sadarkanlah kami ya Tuhan akan kelemahan ini dan tuntun kami pada jalanMu. Sebab Dikaulah sumber hidup kini dan sepanjang masa. Amin.



Senin, 15 Oktober 2007
Peringatan St. Theresia Avila, Perawan dan Pujangga Gereja
Rm 1;1-7; Luk 11:29-32
===========================================================================

TANDA SEBAGAI BUKTI

Suatu kali seorang manajer memanggil wakilnya. Manajer itu hendak cuti keluar kota selama seminggu. Ia mau supaya selama ia tidak ada wakilnya itulah yang diserahi tanggung jawab menggantikan dirinya. Kepada wakilnya itu, sang manajer menanyakan kesanggupan wakilnya menggantikan dirinya secara penuh. Wakilnya menyanggupi tugas itu. Tapi manajer mengejar lebih lanjut. “Apa buktinya kamu bisa saya percaya?”
Lalu wakilnya berkata, “Baiklah kita buat surat bermeterai. Akan saya tanda tangani. Itulah buktinya saya sanggup menjalankan tugas saya.” Lalu mereka berdua duduk bersama, merumuskan sebuah surat resmi yang dijadikan pegangan oleh manajer itu selama ia tidak ada di tempat. Manajer itu bercuti dengan lega dan tanpa beban karena ia memegang tanda bukti komitmen wakilnya dalam menggantikan tugasnya.
Manusia membutuhkan bukti nyata yang merupakan tanda keseriusan seseorang melaksanakan sesuatu. Demikian pula orang banyak yang mendengarkan Yesus menuntut bukti bahwa Yesus itu adalah benar-benar utusan Allah. Dalam sejarah bangsa mereka, telah banyak muncul tokoh nabi yang membawa tanda dan bukti spektakuler. Satu di antaranya adalah Yunus. Bagi orang Israel Yunus adalah seorang tokoh utusan Tuhan. Sekalipun Yunus berusaha menolak tugas dari Allah untuk mentobatkan kota Niniwe dan penduduknya, tapi ia tak bisa berkelit. Sekuat apapun usaha Yunus menghindari Allah, tapi Allah selalu dapat menangkapnya. Sampai-sampai Yunus pernah hidup di dalam perut ikan selama 3 hari. Itu adalah tanda mujizat kebesaran Tuhan. Kalau Allah sudah berkehendak, tak ada kuasa apapun yang dapat menggagalkannya. Yunus akhirnya dapat mentobatkan penduduk Niniwe, mulai dari raja, rakyat dan hewan peliharan kota Niniwe.
Sangat dapat dimengerti kalau orang-orang itu sangat terkesan dengan tanda Yunus itu. Maka mereka meminta agar Yesus juga dapat menunjukkan bukti kenabianNya. Hal itu jusru menyulut kemarahan Yesus. Ia mengatakan bahwa angkatan yang meminta tanda Yunus itu adalah angkatan yang jahat. Seharusnya mereka tahu bahwa Yesus itu lebih besar daripada Yunus. Yunus mampu bertahan hidup dalam kegelapan perut ikan selama 3 hari. Padahal Yesus lebih hebat. Ia berada dalam kegelapan makam selama 3 hari dan sesudahnya bangkit dari wafat.
Yesus sungguh-sungguh mencela sikap iman yang selalu menuntut bukti. Persoalan iman tidak mutlak harus diawali dengan bukti ilmiah yang kasat mata. Yang dibutuhkan adalah hati yang terbuka dan tulus menerima pewartaanNya. Adakah iman itu dalam diri kita masing-masing?

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga iman kami senantiasa Kaubaharui tidak harus dengan bukti dan tanda yang besar, melainkan melalui peristiwa hidup kami sehari-hari. Amin.






Selasa, 16 Oktober 2007
Rm 1:16-25
Luk 11:37-41
===========================================================================

PENAMPILAN LUAR

Di suatu lingkungan, berkumpullah ibu-ibu setelah doa lingkungan. Mereka berkasak-kusuk dan bergosip tentang penampilan pastor mereka. Pada dasarnya mereka membicarakan selera berpakaian pastor mereka yang tak rapi. Selalu pakai baju yang itu-itu saja, tidak pernah bersepatu, suka pakai kaos oblong dan bla..bla banyak lagi yang dibahas. Intinya mereka mengharapkan agar para pastor itu semestinya menjaga penampilan dan kerapian dalam berpakaian.
Akhirnya salah seorang ibu itu menyampaikan resolusi. “Baiklah kita tentukan supaya di antara kita ada yang berani menjadi utusan kita, datang kepada pastor dan memberikan masukan kepada pastor tentant cara berpakaiannya. Ada yang berani?”
Tiba-tiba semuanya terdiam membisu. Tak satupun di antara mereka yang menawarkan dirinya berbicara dengan pastor. Pertemuan itu bubar begitu saja dan pastor tak pernah mendengar masukan dari umatnya tentang cara berpakaiannya.
Dalam kehidupan kita betapa banyak hal yang hanya diukur dan dilihat dari penampilan luarnya. Style dan gaya penampilan luar menentukan banyak hal. Contohnya para sales dan pramuniaga. Mereka dituntut tampil dengan cantik mempesona dan rapi agar dapat menarik minat orang membeli produk yang mereka tawarkan. Kadang-kadang produk itu sendiri tidak lebih penting dari cara-cara dan penampilan lahiriah yang mereka perlihatkan.
Persis yang terjadi di antara orang-orang Farisi yang menjamu Yesus. Mereka mencela tindakan Yesus yang sebelum makan tidak mencuci tanganNya lebih dahulu seperti yang biasa mereka lakukan dan tentukan dalam adat-istiadat. Orang-orang Farisi sama pengecutnya seperti ibu-ibu yang bergosip tentang penampilan pastor tadi. Mereka tak berani berkata langsung kepada Yesus. Mereka hanya melihat dengan pandangan heran dan mencela.
Yesus tahu arti pandangan itu. Kemudian Yesus mengecam mereka. Orang-orang Farisi dikatakan oleh Yesus sebagai orang-orang yang hanya memperhatikan penampilan luar saja. Padahal bagian dalam hati mereka penuh dengan rampasan dan kejahatan. Dalam ungkapan masa kini ungkapan Yesus itu senada dengan ini: penampilan luarnya saja yang wah, tapi hatinya bobrok. Untuk apa mementingkan penampilan luar tanpa ada upaya membersihkan penampilan dari dalam?
Yesus menghargai ketulusan dari dalam. Perilaku dan penempilan tidak lah menentukan kebaikan seseorang. Kalau yang di dalam bersih, pastilah yang di luar pun bersih. Sebaliknya belum tentu yang dari luar kelihatan bersih, demikian keadaannya di dalam. Jauh lebih penting inner (yang di dalam) daripada yang tampak oleh mata.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, ajarilah kami untuk lebih mengutamakan keutamaan dari dalam diri kami daripada penampilan jasmaniah kami. Amin.




Rabu, 17 Oktober 2007
Peringatan St. Ignasius Antiokhia, Uskup dan Martir
Rm 2:1-11; Luk 11:42-46
===========================================================================

SANTO IGNASIUS SAKSI IMAN YANG SEJATI

Ignasius memiliki kepridian yang sangat mengagumkan dan mengesankan. Secara intelektual, Ignasius memiliki kemampuan rasional (orang pandai) dan secara persona, Ignasius merupakan orang saleh dan bijaksana. Kepribadiannya yang demikian menjadi dasar pijak untuk diangkat dan ditahbiskan sebagai Uskup Antiokhia.
Tugas kegembalaan yang Gereja percayakan padanya dilaksanakan secara tuntas dan konsekuen. Uskup Ignasius tidak pernah merasa gentar dalam menyaksikan iman Kristiani yang telah dimilikinya, walaupun pada masa itu Kaisar Trajanus menggalang kegiatan pembasmian orang-orang Kristiani yang tak mau mengakui dirinya sebagai Titisan Dewa (Tuhan). “Janganlah menyebut jahat orang yang membawa Tuhan dalam dirinya. Akulah Ignasius, pemimpin oran-orang yang sekarang berdiri di hadapanmu. Kami semua pengikut Kristus, yang telah disalibkan bagi keselamatan umat manusia. Kristus itulah Tuhan kami dan Ia tetap tinggal dalam hati kamidan menyertai kami.” Kata-kata ini diungkapkan Uskup Ignasius di hadapan Kaisar Trajanus yang bertanya kepadanya: “Siapakah engkau hai orang jahat yang tidak menaati titahku?” Sama seperti Kristus, Uskup Ignasius pun berani dan rela menanggung resiko demi kesetiaannya untuk mewartakan karya keselamatan Allah yang telah diwariskan oleh Kristus. Dia sungguh meneladani Kristus secara paripurna. “Kekasihku sudah disalibkan, maka akupun tidak merindukan sesuatu yang duniawi melainkan merindukan persatuan segera dengan Dia,” tulis Uskup Ignasius dalam suratnya kepada umatnya di Antiokhia.
Keberhasilan dan kesuksesan St. Ignasius dalam menghayati tugas kegembalaan Gereja ini ditopang oleh kepribadiannya (pandai, saleh dan bijaksana). Kepandaian yang St. Ignasius miliki telah didayagunakan secara tepat dalam mengelola segala potensialitas dirinya, sehingga tampak jelas bahwa selalu terarah kepada perwujudan kehendak Allah semata-mata. Kesalehannya telah menjadikan St. Ignasius sebagai gembala umat Allah yang memiliki rasa hormat terhadap Ekaristi Kudus. “Satu saja Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu juga Piala DarahNya. Keduanya dikurbankan di atas satu altar oleh satu Uskupmu bersama imam-imam dan diakon-diakon,” tulis St. Ignasius dalam surat kepada umatnya. Kebijaksanaan diri yang dimiliki St. Ignasius telah memampukannya untuk berani menanggung resiko dan rela mengurbankan diri demi imannya yang teguh akan Kristus. Ya, dia pandai sekaligus saleh serentak bijaksana. Artinya, bahwa dalam dirinya ada korelasi yang sinergis antara kemampuan insani dan kekuatan ilahi. Segala sesuatu yang termasuk insani disucikan dan disempurnakan oleh yang ilahi. Dengan demikian, St. Ignasius mampu menjadikan hidup Yesus sebagai hidupnya sendiri.
Apa yang bisa kita petik dari orang kudus ini? Sesungguhnya ada satu kesaksian hidup yang sangat bermakna untuk kita teladani dari St. Ignasius, hidup Kristus menjadi hidup kita dan karya perutusan Kristus menjadi karya perutusan kita. Secara sederhana, marilah kita selalu menempatkan Kristus sebagai Penyelamat dan Penebus, Penopang dan Penjamin hidup bahagia untuk selama-lamanya. Marilah kita selalu mengawali segala usaha kita dengan Kristus, melaksanakannya bersama Kristus, dan menyelesaikannya di dalam Kristus. Dengan demikian, kehendak Allah akan benar-benar terlaksana di dalam diri kita. Bahwa kita akan hidup bahagia selamanya, karena Allah menghendaki agar kita yang memiliki persekutuan hidup yang erat mesra dengan DiriNya senantiasa selamat dan bahagia. Dalam diri Kristus, misteri ilahi telah tersingkap secara paripurna. Karena itu, turutilah hidup Kristus sebagaimana telah ditelandankan oleh St. Ignasius.

Marilah berdoa,
Ya Yesus Kristus, semoga Engkau selalu ada di dalam seluruh diri kami dan kami selalu ada di dalam Dikau sebab Engkaulah satu-satunya Tuhan yang telah menyelamatkan kami dan Engkaulah juga penuntun kami dalam seluruh ziarah hidup di atas bumi ini. Benamkanlah semangat hidup Kristiani St. Ignasius di dalam diri kami, supaya kami pun mampu menjadi saksimu yang sejati.
Amin.


Kamis, 18 Oktober 2007
Pesta St. Lukas, Pengarang Injil
2Tim 4:10-17b; Luk 10:1-9
===========================================================================
KESELAMATAN ALLAH UNTUK SEMUA BANGSA

Hari ini Gereja merayakan pesta St. Lukas, Pengarang Injil. Kisah-kisah seputar kehidupan St. Lukas memperlihatkan bahwa pada mulanya Lukas adalah seorang kafir. Ia lahir dari sebuah keluarga kafir di Antiokhia. Pekerjaan pokoknya adalah memberikan perawatan kepada mereka yang sakit dan membutuhkan pertolongannya sebagai tabib terkemuka. Ya, Lukas adalah seorang tabib, seorang dokter.
Lukas mengetahui ajaran-ajaran Kristiani dan mengenal kekhasan hidup sebagai orang Kristen lewat pewartaan dan kesaksian hidup orang-orang Kristen perdana yang menyebar ke Antiokhia, akibat penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Pengetahuan dan pengenalan ini telah mengantarnya kepada pertobatan dan penyerahan diri untuk menjadi orang Kristen yang sejati. Lukas serentak menjadi orang Kristen dan Pengarang Injil.
Setelah mengenakan mahkota Kristiani, Lukas menjadi teman seperjalanan Paulus untuk malaksanakan karya-karya misioner di Makedonia, Yerusalem dan Roma. Moment ini juga dimanfaatkan oleh Lukas untuk mengoleksi bahan-bahan yang mau dipergunakan dalam penulisan Injil Lukas dan bagian pertama Kisah Para Rasul. Lukas memperhatikan secara saksama dan merekam secara tepat ajaran-ajaran Paulus yang disampaikan kepada umat yang datang dan mendengarkan pewartaannya.
Injil yang ditulis oleh St. Lukas sangat khas dan unik. Dari segi gramatika, bahasa yang dia gunakan sangat halus dan kisah-kisah tentang pewartaan Kristus disajikannya secara lancar. Sedangkan dari segi esensi, St. Lukas menekankan bahwa evangelisasi atau khabar gembira Yesus Kristus selalu diperuntukan kepada semua bangsa, khususnya bagi mereka yang lemah dan hina-dina, kaum fakir miskin dan tertindas, para pendosa yang menyesal dan bertobat. Tujuan yang hendak St. Lukas tonjolkan dalam pewartaannya ini adalah, bahwa Allah memiliki perhatian yang khusus dan istimewa kepada mereka yang terbuang di tengah kehidupan bersama dan mereka yang selalu luput dari perhatian banyak orang. Bahwa Allah justeru selalu mencurahkan rahmat cinta kasihNya secara lebih kepada orang-orang seperti ini. Ya, bagi merekalah Allah telah datang dan tinggal bersama-sama dengan manusia di atas bumi ini. Prinsip dasar yang St. Lukas gunakan, bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Maksudnya, bahwa Allah datang bukan untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang benar, melainkan mereka yang berdosa dan bertobat, mereka yang miskin dan tertindas, mereka yang hina-dina dan lemah tak berdaya; agar mereka inipun selamat dan bahagia sama seperti semua orang benar. Atas dasar inilah maka Injil Lukas lazim dikenal, Injil Kerahiman Allah atau Injil Cinta Kasih.
Selain mengarang Injil, St. Lukas juga menulis bagian pertama Kisah Para Rasul. Fokus St. Lukas dalam tulisan ini adalah gambaran tentang perkembangan Gereja awali, khususnya dari saat Kristus naik ke Surga sampai saat Paulus di Roma. Secara kuatitatif, jumlah umat Kristiani semakin bertambah banyak berkat pewartaan para Rasul tentang karya keselamatan Kristus. Secara kualitatif, penghayatan iman semakin mendapatkan daya pikat dalam kehidupan sehari-hari Jemaat Perdana.
Apa yang bisa kita pelajari dari St. Lukas? Pertama, kabarkanlah dan nyatakanlah kerahiman dan belaskasih Allah kita kepada semua orang, khususnya kepada sesama kita yang berdosa dan bertobat, yang miskin dan tertindas, yang hina-dina dan tak berdaya; agar mereka pun selamat dan bahagia sama seperti semua orang benar. Kedua, hayatilah prinsip hidup Kristiani kita, setiap saat adalah saat kayros – saat keselamatan. Untuk itu, kita mesti memiliki dalam diri semangat passing over – semangat beralih.

Marilah berdoa,
Yesus yang berhati bening, jadikanlah hati kami sebening hatiMu. Dengan demikian, kami sanggup melaksanakan amanat perutusan Allah sama seperti Engkau sendiri dan yangn telah ditelandankan oleh St. Lukas, mewartakan serentak menyatakan keselamatan Allah kepada semua orang, khususnya kepada sesama kita yang berdosa dan bertobat, yang miskin dan tertindas, yang hina-dina dan tak berdaya; agar mereka pun selamat dan bahagia sama seperti semua orang benar. St. Lukas doakanlah kami.
Amin.


Jumat, 19 Oktober 2007
Rm 4:1-8
Luk 12:1-7
===========================================================================

TAK ADA SATUPUN YANG TERSEMBUNYI

Yesus menyampaikan kritikNya terhadap kaum Farisi yang merasa diri harus tampil sempurna, tetapi tidak ada usaha untuk menuju kesempurnaan itu. Dipihak lain, warta gembira yang dibawa oleh Yesus merupakan berita kegembiraan bagi semua, terbuka dan universal. Pewartaan itu tentu mengandung juga penderitaan dan resiko. Tetapi pewarta tidak boleh takut, gelisah atau gentar. Warta gembira itu harus disampaikan kepada semua orang, walau untuk itu si pewarta mengalami penderitaan badan.
Cara hidup munafik yang dikritik oleh Yesus tidak membebaskan orang pada hidup yang sesungguhnya di hadapan Allah. Yesus dengan tegas menentang cara hidup seperti itu. Lewat sabdaNya itu, Yesus mengingatkan setiap kita untuk tidak menipu diri sendiri dengan gaya dan penampilan yang tidak sesuai dengan adanya. Di mana apa yang dikatakan atau diajarkan tidak sesuai dengan perbuatan dan tindakan, saling bertentangan.
Pengajaran Yesus itu lebih ditujukan kepada semua orang yang mengikutiNya agar selalu waspada terhadap kemunafikan yang kerap kali mewarnai hidup bersama. Gensi, kedudukan, dan kenikmatan kerap kali mewarnai hidup bersama sehingga nilai-nilai kejujuran dan kebenaran sering dikorbankan. Kemurnian hidup para murid Yesus tidak boleh dinodai oleh kepentingan yang membuat dirinya jatuh dalam kemunafikan. Di hadapan Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi, apalagi kemunafikan. Semuanya akan terbongkar.
Kemunafikan bisa diatasi dengan pola hidup yang benar dalam bimbingan Roh Allah. Keterbukaan untuk dipimpin oleh Roh Allah membutuhkan iman. Sikap iman Abraham untuk mengikuti bimbingan Roh Allah patut menjadi sikap iman para pengikut Yesus sekarang ini. Maka kehidupan religius kita bukan sekedar sistem untuk mengatur bagaimnana orang hidup beriman, melainkan suatu kesempatan untuk mengembangkan hubungan kita yang baik dengan Allah. Hanya hubungan pribadi yang baik dengan Allah itulah yang mampu menjadikan kita bermutu dalam kehidupan dan dalam hubungannya dengan sesama. Hubungan yang baik dengan Allah menjadi senjata yang ampuh untuk memungkas setiap bentuk kemunafikan yang akan menguasai diri dan hidup kita. Karena itu, kita harus lebih taat dan takut kepada Allah daripada kepada manusia. Kita diharapkan untuk bertindak benar, polos seperti merpati dan cerdik seperti ular dalam bimbingan Roh Kudus. Yesus mengutus kita semua untuk menjadi saksi kebenaran di tengah kehidupan dunia ini.
Mari kita belajar pada pribadi Maria, yang polos, jujur dan rendah hati. Seluruh hidup Maria merupakan buah-buah iman karena relasinya yang benar dengan Allah. Relasi yang benar dengan Allah itulah akan menjadi senjata yang ampuh bagi kita untuk melawan segala kemunafikan. Semoga kita tetap setia untuk hidup jujur dan benar di hadapan Allah dan sesama.
Marilah berdoa,
Tuhan, terangi hati, pikiran dan budi kami dengan Roh Kudus agar tidak jatuh dalam kemunafikan. Semoga kami setia untuk selalu hidup dan berlaku jujur dan benar di hadapanMu dan sesama. Amin.

Sabtu, 20 Oktober 2007
Rm 4:13,16-18
Luk 12:8-12
===========================================================================

SIAP MENJADI SAKSI TUHAN

Ketika orang dibaptis ia menerima anugerah istimewa menjadi anak Allah. Penyerahan diri dalam pembaptisan mau menyingkapkan satu kebenaran iman bahwa Yesus Putera Allah adalah “jalan” yang membawa orang kepada kehidupan dan keselamatan. Yesus sendiri bersabda “Akulah jalan, kebenaran dan hidup; dan tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melului Aku” (bdk. Yoh 14:6). Pembaptisan menjadikan seorang anggota Tubuh Mistik Kristus. Oleh pembaptisan, seseorang dilantik dan diutus untuk menjadi ragi, terang dan garam dunia. Itu berarti dia diutus untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Tugas menjadi saksi Kristus ini diperteguh lagi oleh sakramen krisma. Krisma menjadikan orang dewasa dalam iman dan sehingga siap diutus untuk bersaksi tentang Kristus.
Perutusan itu memang mengandung resiko, entah itu ditolak, dikucilkan, dianiayah, dsbnya. Menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah dunia yang “berkolusi” dengan kejahatan pasti akan melewati jalan salib. Mungkin inilah yang membuat kebanyakan pengikut Yesus menjadi takut dan malu untuk bersaksi. Orang takut untuk menanggung salib dan menderita karena iman akan Kristus. Tuhan meneguhkan kita bahwa “setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, anak manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah” (Luk 12:8-9). Itu artinya setiap murid Yesus tidak perlu menjadi malu memberikan kesaksian akan Dia, sebab Yesus pun akan bersaksi tentang kita di dihadapan BapaNya. Bila orang tidak diakui oleh Yesus di hadapan Allah, itu berarti suatu kebinasaan.
Pengakuan orang beriman akan Yesus Kristus diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus. Maka, bila orang berdosa terhadap Roh Kudus keselamatannya akan terancam. Karena dosa melawan Roh Kudus tidak bisa diampuni. Dosa kepada Roh Kudus merupakan dosa final. Bila orang mengingkari kekuatan Roh Kudus sama artinya mengingkari seluruh kebenaran iman, sebab Roh Kuduslah yang mengajarkan seluruh kebenaran iman itu kepada manusia. Roh Kudus tidak bisa lagi mendapat tempat dan bekerja dalam hati orang yang demikian.
Ketika Yesus mengutus para muridNya, Ia berkata Aku akan menyertai kamu sampai akhir zaman. Para murid percaya akan janji itu. Dan memang benar Tuhan setia pada janjiNya. Iman akan janji penyertaan Allah juga meneguhkan Abraham, baik dalam perjuangan hidupnya maupun dalam melaksanakan tugas perutusannya. Abraham tidak ragu-ragu akan Allah yang berjanji. Kendati janjiNya itu tertunda-tunda, tetapi Allah tetap setia. Dengan demikian, Abraham menjadi bapa kaum beriman. Keyakinan iman seperti itulah yang diwariskan Abraham kepada kita.
Iman akan penyertaan Allah juga diyakini oleh Maria. Ketika Maria diminta untuk menjadi Bunda Yesus, ia berpasrah diri “Aku ini hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataanMu”. Bulan Rosario ini, saat yang istimewa untuk semakin memperdalam persatuan kita dengan Tuhan bersama BundaNya Maria. Kita patut meneladani iman Abraham dan iman Maria akan setiap rencana dan penyelenggaraan Allah atas diri dan hidup kita. Dengan begitu, kita siap untuk diutus menjadi Kristus.

Marilah berdoa,
Tuhan, tambahkan iman kami, sehingga kami siap untuk menjadi utusan dan saksiMu di tengah dunia ini. Amin.



Minggu, 21 Oktober 2007
Pekan Biasa XXIX, Hari Minggu Misi
Kel 17:8-13; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8
===========================================================================
MISI ALLAH

Hari ini Gereja Katolik sedunia berdoa untuk karya misi. Apakah yang ada dalam benak kita ketika kita mendengar kata misi? Misi berarti perutusan. Dalam refleksi Gereja, hal itu pertama-tama adalah suatu tugas dari Allah untuk turut serta dalam karya Kristus menghadirkan Injil. Dengan demikian satu hal penting yang harus menjadi pemahaman mendasar bahwa karya misi itu adalah milik Allah.
Pengertian misi tidaklah sesempit memahami siapakah para misionaris, sebab sesungguhnya setiap orang Katolik diutus menjadi misionaris pembawa Warta Gembira. Lalu mengapa Gereja masih selalu menyegarkan semangat misi tersebut?
Tak dapat disangkal bahwa misi adalah sesuatu yang dihidupi setiap hari. Misi bagaikan nafas hidup kita. Sama seperti kehidupan di muka bumi ini, mengenal jatuh bangun, naik turun dan bersemangat maupun loyo; misi pun harus senantiasa diperbaharui. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa Gereja mendedikasikan hari ini sebagai Hari Minggu Misi.
Gereja hendak mengajak semua umat beriman menyegarkan kembali tugas perutusan yang masing-masing diemban di tengah kehidupan kita yang cenderung egoistis, tak peduli akan orang lain dan tanpa pengharapan. Dalam konteks dunia seperti itulah kita semua dipanggil untuk membawa Kabar Gembira bagi sesama kita.
Injil yang kita renungkan menghadirkan sosok Allah sebagai pemberi. Allah kita bukanlah Allah yang tak peduli pada kebutuhan manusia. Biarpun Yesus menampilkan perumpamaan tentang hakim yang lalim, bukan berarti bahwa Allah kita seperti itu. Hakim yang lalim mengabulkan permohonan janda miskin yang hanya karena ia tak mau diganggu oleh janda itu yang tiap hari datang dan memohon agar perkaranya dibela. Kedatangan janda itu secara terus-menerus mengusik hakim itu. Agar tak selalu diganggu, maka ia memutuskan mengabulkan permohonan janda miskin itu.
Nah, kalau hakim yang lalim saja bersikap seperti itu, apalagi Allah kita. Dalam kemurahan hati Allah kita lebih daripada hakim yang lalim itu. Ia akan mengabulkan permohonan kita juga asalkan kita bertekun dalam memohon, dan terlebih juga kalau permohonan kita itu sesuai dengan kehendak Allah. Dia bukanlah Allah yang lalim, yang suka mengulur-ulur pengabulan doa dan permohonan kita.
Citra Allah yang seperti itulah yang perlu kita wartakan terus-menerus. Perutusan kita akan efektif kalau terlebih dahulu kita mengimani dan meyakini Allah sebagai Bapa yang baik bagi kita. Kita hanya dapat memberikan kepada orang lain sesuatu yang kita miliki. Pertanyaan bagi kita sekarang, apakah kita sudah memiliki pengalaman akan Allah? Kalau sudah, bagikanlah kepada setiap orang yang kita jumpai. Kita diutus untuk menghadirkan Allah seperti yang kita alami, dan dengan demikian akan semakin banyaklah orang yang percaya pada Allah, Bapa kita.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga kami senantiasa bersemangat mewartakan Allah yang mahabaik. Jadikanlah kami utusan-utusanMu. Pakailah apa yang ada pada kami untuk kemuliaan namaMu. Amin.


Senin, 22 Oktober 2007
Rm 4:20-25
Luk 12:13-21
===========================================================================

DI BALIK HARTA MELIMPAH

Memiliki harta melimpah adalah naluri alamiah setiap manusia. Dengan memiliki harta melimpah, ada jaminan bahwa segala keinginan di dunia ini terwujud. Kenikmatan dan kenyamanan dunia banyak kali hanya bisa terwujud kalau memiliki uang dan harta yang banyak. Karena itu tak aneh kalau orientasi akan harta benda duniawi ini menguasai kebanyakan kita.
Kita bekerja keras sepanjang hari, membanting tulang sampai tidak sempat makan dan minum dan akhirnya mengalami sakit parah. Apakah yang kita cari? Para gelandangan dan anak-anak jalanan, tersiksa berpanas-panas di perempatan-perempatan jalan. Apa yang mereka cari? Pun para pengusaha besar, memutar otak bagaimana melipatgandakan uang investasinya untuk merambah pelbagai usaha dan bisnis. Apa yang dicari?
Semuanya berharap agar pundi-pundi simpanannya penuh, rekeningnya di bank bertambah dan berbunga dari hari ke hari. Hidup serasa nyaman dan tenang seandainya tabungan dan deposito melimpah. Harta melimpah menjanjikan rasa damai dan tenang, paling kurang selama hidup di dunia.
Tidaklah mengherankan bahwa naluri dasariah manusia tersebut menimbulkan efek yang merusak nilai-nilai lain. Contohnya, harta dapat memicu pecahnya persaudaraan. Harta menyuburkan egoisme dan memiskinkan solidaritas. Seperti yang tampak pada peristiwa Injil hari ini, Yesus didatangi oleh seseorang yang memintanya menjadi hakim atas dirinya dan saudaranya agar mau berbagi warisan.
Ya, di banyak tempat kita sering mendengar betapa relasi persaudaraan menjadi pecah hanya karena orientasi harta dan warisan. Tak jarang terjadi pula pertumpahan darah antarsaudara karena memperebutkan warisan. Sangat dapat dimengerti sebab semua orang menginginkan harta dan kekayaan.
Jawaban Yesus menyentak kita. “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Dalam hal ini Yesus tegas-tegas menolak mengurusi hal-hal duniawi. Ia mengingatkan kita dengan memberikan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh, yang memusatkan hidupnya untuk menimbun harta supaya ia dapat bersantai-santai menikmati jaminan kekayaan duniawi. Yesus mencela sikap orang yang mengandalkan kekayaan dunia, kataNya, “... untuk siapakah semua kekayaan itu nanti?” Sebab sewaktu-waktu jiwa kita dapat diambil oleh Allah.
Kalau kita mati, tak ada satupun harta kekayaan dunia yang dapat kita bawa. Kita telanjang lahir ke dunia, maka dengan telanjang pula kita akan menghadap Bapa. Marilah kita secara bijak memandang arti kekayaan bagi hidup kita. Jangan biarkan kita dikuasai oleh harta kekayaan dunia, sehingga kita melalaikan nilai-nilai luhur Kerajaan Allah, yang salah satunya adalah mengupayakan persaudaraan sejati.

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, berilah kami kebijaksanaan sejati dalam memandang kekayaan dunia. Anugerahilah kami bukan napsu untuk memiliki kekayaan berlimpah, tapi hasrat mengupayakan nilai-nilai Injil. Amin.




Selasa, 23 Oktober 2007
Peringatan St. Yohanes Capestrano, Imam
Rm 5:12,15b,17-19,20b-21; Luk 12:35-38
===========================================================================

SADAR SETIAP SAAT


“Jangan ngelamun, nanti kesambet.” Begitu orang biasa berkata bila melihat orang tampak tatapannya kosong. Banyak orang malah bersikap santai dan menikmati lamunannya. Orang yang melamun, secara nyata badannya ada dan bergerak, tetapi tanpa kesadaran penuh tentang keberadaannya di tempat itu. Sehingga tidak heran, orang yang melamun, amat mudah dikagetkan.
Waspadalah, demikian kata Yesus. Tetap berjaga dan sadar. Nasehat berjaga dan waspada seperti diulang-ulang senantiasa dalam tayangan sebuah televisi swasta, perlu kita camkan dan laksanakan. Seorang yang dibayang-bayangi ancaman musuh, akan selalu berusaha untuk awas dan waspada. Tetapi amat sering orang menjadi kecolongan. Ketenangan laut, heningnya malam, membuat kita kadang lalai. Danau Galilea menjadi contoh yang amat baik tentang ketenangan yang menjadi ancaman. Seringkali danau itu tampak tenang. Tetapi kerapkali kelalaian membuat mereka yang melayarinya terjebak dalam angin kencang yang bisa menenggelamkan perahu. Lalai di tengah jalan yang lengang juga sering kali membawa maut. Jika ditelisik lebih jauh, justru banyak kecelakaan mematikan terjadi di jalan tol yang lengang.
Saat perjalanan dihitung dalam detik, mautpun menghitung dalam detik. Sepersekian detik kita lalai, waktu itu bisa menjadi milik maut. Maka “waspadalah”. Maut tidak membutuhkan banyak waktu kita. Maut hanya membutuhkan sepersekian detik kelalaian kita. menyimak kejelian maut itu, Yesus mengajak kita untuk waspada.
Kewaspadaan di masa tenang, awas dalam keheningan, sadar dalam sepinya jalan hidup mungkin tampak sia-sia. Untuk apa bersiaga bila tidak ada ancaman. Bersiaga dalam situasi damai mungkin akan membuang energi percuma. Maka, mereka yang berada di bawah tekanan, cenderung lebih awas daripada mereka yang merasa nyaman. Bersiaga dalam situasi terancam adalah hal yang lumrah. Tetapi Yesus mengajak kita supaya awas juga setiap saat. Sebab angin bisa bertiup tanpa kita minta.
Waspadalah seperti seorang yang menanti tuannya tiba pada saat yang tidak diketahui. Imbalan yang diterima sungguh di luar dugaan. Seorang hamba yang bersiaga menghargai tuannya tiba, (dalam injil hari ini) mendapat penghargaan luar biasa. Hamba itu tahu bahwa tuannya akan datang. Berbeda dengan kedatangan pencuri. Tuan itu akan pulang pada saat yang tidak diketahui. Tetapi alangkah bahagianya bila kedatangannya juga disambut dengan siap siaga oleh hamba yang setia.
Tak tersangkal pula. Mautpun akan datang. Hanya saatnya tidak pasti. Maka pesan hari ini adalah “waspadalah”. Maut tidak perlu banyak waktu. Dia hanya membutuhkan sedikit kelalaian kita.

Marilah berdoa:
Ya Tuhan, mampukan kami selalu siap sedia setiap saat.
Amin.


Rabu, 24 Oktober 2007
Rm 6:12-18
Luk 12:39-48
===========================================================================

HUKUMAN SESUAI TANGGUNG JAWAB


Ketidaktahuan, adalah salah satu perisai kesalahan. Seorang yang melakukan kesalahan tanpa tahu bahwa itu adalah kesalahan, kemungkinan akan mendapat toleransi yang jauh lebih lunak daripada mereka yang tahu. SP atau surat peringatan dari kantor diadakan untuk mengingatkan seseorang atas kesalahannya. Dengan Surat Peringatan seseorang diingatkan kembali atas aturan bersama. Menjawab teguran dengan “saya tidak tahu”, ditoleransi dengan Surat Peringatan. Berbeda dengan kaidah umum atau peraturan umum di tengah kehidupan. Seorang pemakai jalan, dianggap sudah tahu segala aturan di jalan raya. Tidak ada alasan untuk berkata bahwa kita tidak tahu aturan lalu lintas. Juga tidak ada alasan untuk berkata bahwa kita tidak tahu aturan atau norma-norma kehidupan.
Sebagai pengambil keputusan akhir, Tuhan juga tidak beranggapan bahwa kita tidak tahu. Hukum Tuhan ada dalam hati setiap orang. Maka setiap orang yang bisa memakai akal budi, sudah diandaikan tahu norma-norma moral. Tetapi mereka yang tidak tahu, ternyata melakukan sesuatu kesalahan karena memang tidak tahu, akan mendapat hukuman lebih sedikit daripada mereka yang sudah tahu tentang norma-norma.
Seorang yang melakukan kesalahan karena dia tahu, akan berbeda dengan mereka yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Seorang yang tahu bahwa sesuatu itu salah tetapi tetap melakukannya, maka orang itu akan menerima banyak pukulan. Demikian kata Yesus. (Luk 12:47). Tahu dan mau merupakan dua prinsip dosa. Seorang yang tidak tahu bahwa itu keliru tetapi melakukannya juga, maka orang itu akan menerima lebih sedikit pukulan atau hukuman. “Tahu” mengandaikan bahwa kita mengerti benar dan salah, baik dan jahat. “Mau” mengandaikan adanya kehendak dan kebebasan batin. Bagaimana dengan “Tidak Mau Tahu?”
“Tidak Mau Tahu” juga adalah prinsip dosa. Tidak mau tahu mengandung makna bahwa kita sudah tahu tetapi bersikap seolah-olah tidak tahu. Sikap seolah-olah tidak tahu merupakan mengejawantahan dari sikap keras kepala dan membela diri. Di hadapan Tuhan rupanya tidak ada tempat bagi pembelaan diri. Yang ada hanyalah “Tahu” dan “Mau” melakukan sesuatu. Tidak ada tempat bagi “Tidak Mau Tahu”


Marilah berdoa:
Ya Yesus, semoga saya mampu bersikap dan berbuat seperti yang saya ketahui.
Amin.





Kamis, 25 Oktober 2007
Rm 6:19-23
Luk 12:49-53
===========================================================================

BERANI UNTUK MENCIPTAKAN PERTENTANGAN KARENA YESUS!

‘Apakah kata-kata Yesus dalam perikop ini masih normal?’ mungkin ini menjadi pertanyaan anda. Koq Yesus datang membawa ‘api’ dan ‘pertentangan’?! ‘Katanya Dia Raja Damai’ , ‘DamaiKu Kuberikan kepadamu. Dan DamaiKu Kutinggalkan bagimu’?
Rupanya Tuhan tidak bisa disikapi setengah-setengah. Berhadapan dengan Dia dan ajaranNya, setiap orang dipaksa, dituntut untuk memilih: Yesus atau yang lain. Hubungan darah dan kedekatan relasi manusia, harus dinomorduakan, kalau relasi dengan Allah mau dibangun. Ini pasti! Dan pilihan ada pada setiap kita. Atau Yesus, atau ayah atau ibu, atau putra atau putri kita... Dan tidak bisa kedua-duanya. Pilihan hanya ada pada satu pihak. Pasti ini bukan harapan kita, kita berkeinginan kalau bisa kedua-duanya. Dan memang keinginan seperti inilah yang membuat hidup rohani, hidup iman kita tidak berkembang. Kita takut untuk membuat keputusan yang tegas itu.
Pilihan yang sulit itulah yang membuat relasi antar saudara, antar manusia menjadi seperti api yang hangus membara. Kita dituntut untuk memilihi Yesus di atas segala-galanya, termasuk dengan orang yang paling dekat sekalipun. Pilihnan inilah yang membuat motivasi dasar iman kita menjadi murni.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari cukup sering kita dihadapkan kepada pilihan serupa. Mulai dengan hal-hal sederhana, kita merasa seakan-akan dalam hati dan pikiran ada pertentangan antara memilih yang benar dan baik atau mengikuti yang sebaliknya. Kita alami pergumulan batin, perumulan dalam hati nurani kita. Dan keputusan atau pilihan yang tepat, yang sesuai dengan suara hati nurani itulah yang membuat motivasi kita menjadi murni dan dalam. Namun keputusan dan pilihan tersebut bisa menciptakan situasi dan kondisi bahwa kita berbeda, bahkan bertentangan dengan pihak atau orang lain. Tetapi satu hal pasti yang kita dapatkan dari pilihan yang tepat ini: kalau kita sudah mampu dan menentukan pilihan kita akan yang baik dan benar, akan Tuhan dan ajaranNya, biasanya ketentraman dan damai sejati meliputi hati kita. Kita akan bahagia.
Kejadian-kejadian yang konkrit tidak sulit untuk diceritakan. Sering misalnya di kantor, ketika kita memilih untuk tidak ikut-ikut dalam ‘persekongkolan’ untuk ikut-ikutan ngilep dan korupsi, pasti anda dimusuhi oleh rekan-rekan sejawat lainya, bahkan mungkin disingkirkan. Ini terjadi karena anda memilih yang jalan Tuhan, mau jujur, benar dan adil. Namun yang pasti hati anda tenang dan damai. Karena anda telah mengikuti suara hati, yang tidak lain adalah suara Tuhan yang menuntun kepada kebenaran hidup.
Contoh lain, beberapa kali terjadi, sesorang dari keluarga Muslim, yang pindah menjadi Katolik, karena ingin menjadi pengikut Kristus, mengalami tidak sekedar dimusuhi oleh orangtua dan anggota keluarga lain, tetapi bahkan ‘dibuang’ dan dianggap bukan anak dan saudara mereka lagi. Inilah contoh yang secara tegas membenarkan kata-kata Tuhan dalam perikop Lukas tersebut. Memang pertentangan, perbedaan and api pemurnian harus membakar dan menyala dalam hidup kita, kalau Tuhan Yesus dan KerajaanNya menjadi pilihan dalam hidup kita. Tidak ada pilihan lain.


Marilah berdoa,
Tuhan Yesus, kami menyadari dan mengakui, seringkali kami tidak berani untuk membuat keputusan dan menentukan bahwa Engkau sebagai satu-satunya pilihan kami. Bantulah kami Tuhan dengan kuasa Roh KudusMu agar pilihan-pilihan dalam hidup kami selalu tepat dan sesuai dengan kehendakMu. Amin


Jumat, 26 Oktober 2007
Rm 7:18-25a
Luk 12:54-59
===========================================================================

HANYA YESUS YANG MEMBEBASKAN KITA DARI KUASA DOSA

Santo Paulus, rasul para bangsa ini amat jujur dan apa adanya. Walaupun dia dipilih, dipanggil langsung oleh Tuhan Yesus sendiri (kisah perjalanan ke Damsyik), dia tetap seorang manusia yang lemah dan rapu. Dia realistis dengan dirinya sebagaimana adanya. Ada kehendak, kerinduan dalam dirinya untuk taat dan melalukan kehendak Tuhan dan apa yang baik dan benar. Namun ia juga sadar dan mengakui bahwa dalam tubuhnya ada keinginan-keingan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Tubuhnya seolah memiliki daya tersendiri, dan memang itulah daya, kekuatan iblis yang sering menjebaknya untuk berbuat melawan kehendak Allah. Dia hidup sepertinya dikuasai oleh kedua kekuatan tersebut. Namun kehendaknya untuk menuruti perintah dan jalan Tuhan luar biasa. Dalam pergumulan itu, dia sadari dan temukan, bahwa kecenderungan kedagingan, kuasa dan keinginan tubuhnya, yang terlihat sulit untuk diatasai dan sering menuntunnya untuk tidak berbuat sesuai dengan yang dikehendakinya, bukannya sesuatu yang tidak mungkin dilawan dan diatasi. Dia temukan, bahwa hanya ada satu kekuatan yang bisa mengalahkan keinginan tubuh dan kedagingan itu, ialah: kuasa Tuhan Yesus Kristus.
Pengakuan akan realitas kelemahan dan kedosaan yang ada pada diri kita secara jujur dan tulus adalah pintu kepada kuasa Tuhan yang akan membebaskan kita dari kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada dalam diri kita. Kerendahan hati yang seperti inilah kunci kepada pembaharuan diri dan pertumbuhan rohani yang benar. Sebaliknya sikap kesombongan rohani, yang menganggap diri sudah beres semuanya biasanya akan menyeret kita kepada bahaya kemunafikan dan kekerdilan iman.
Kalau kita bercermin pada Paulus, sebenarnya kita harus malu hati. Mengapa? Karena seorang rasul agung, yang sendiri dipilih oleh Tuhan saja, masih mengakui kerapuhan, kelemahan dan bahaya kuasa iblis dalam diri dan tubuhnya, apalagi kita.
Pengakuan Paulus ini adalah teladan bagi kita untuk sebuah kerendahan hati yang pada hakekatnya akan membawa kita kepada kemurnian dan perkembangan hidup iman yang sesungguhnya. Pengakuan tulus akan adanya kelemahan, kekuasaan kedagingan yang bercokol dalam diri kita adalah pintu yang terbuka untuk kuasa Tuhan, yang memang satu-satu daya yang bisa menghancurleburkan keinginan-keinginan dan kecenderungan akan dosa dalam diri dan hidup kita. Kalau kita sadar dan berusaha bersikap iman seperti Paulus, pasti suatu saat kita juga akan mengakui seperti beliau bahwa ‘jika saya lemah maka saya kuat’ oleh kuasa kasih Kristus yang menyelamatkan.”

Marilah berdoa,
Tuhan buatlah aku rendah hati dan mengakui kekuranganku, sehingga kuasa kasihMu memenuhi hidupku dan membantuku mengatasi segala kelemahan dan godaan dalam hidupku. Amin


Sabtu, 27 Oktober 2007
Rm 8:1-11
Luk 13:1-9
===========================================================================

IMAN YANG BENAR DAN PERTOBATAN

Akhir-akhir ini terjadi banyak bencana dimana-mana di dunia ini. Amat banyak manusia yang menderita dan bahkan menjadi korban. Bencana juga terjadi di Negara kita yang kita cintai. Rakyat Indonesia yang tertimpa bencana, musibah berada dalam kebingungan, mereka merasa cemas dan takut. Rakyat mengeluh, rakyat menjerit dan berteriak minta tolong. Rakyat sungguh tak berdaya, mereka mengalami kelaparan. Rakyat sangat menderita. Kehidupan terancam.. Mengapa bencana terus saja terjadi? Mengapa penderitaan tak kunjung berakhir? Ini salah siapa? Ini dosa siapa? Siapa yang harus bertanggungjawab atas semua kenyataan pahit ini? Dunia penuh dosa dan derita.
Perikop Injil hari ini mengisahkan tentang sekelompok orang yang datang bertemu dengan Yesus. Dan dalam pertemuan itu terjadilah tanya-jawab, dialog antara Yesus dan kelompok itu tentang orang-orang yang menjadi korban karena bencana alam. ”Mengapa orang-orang itu mengalami penderitaan?” ”Mengapa mereka harus jadi korban dan bukan orang lain?” ”Apakah mereka itu adalah orang-orang yang paling berdosa dan yang harus mati binasa?” Yesus dalam pertemuan dan dialog itu menyampaikan secara tegas dan jelas warta keselamatan, kataNya: ”Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara yang sama”.
Melalui perikop Injil ini, kita semua kembali diingatkan akan warta inti pada awal tampilnya Yesus di Galilea memulai tugas perutusanNya. Yesus berkata:”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” ( Mrk I:15). Menerima dan mengakui diri sebagai pengikut Yesus,sebagai orang yang beriman kepada Tuhan dengan tujuan memperoleh keselamatan kekal bersama Tuhan berarti menerima dan menghayati pertobatan sebagai syarat yang tidak boleh diabaikan dalam seluruh perjuangan hidup iman setiap hari. Seorang beriman adalah seorang selalu mau bertobat, mau memperbaharui diri dan hatinya sehingga kata-kata, perbuatan, dan sikap hidupnya selalu memancarkan dan menyaksikan kebenaran Yang diajarkan olah Tuhan. Dan kebenaran itu antar lain yang terwujud dalam sikap-sikap hidup yang konkrit: adil, jujur terbuka atas dasar cinta, tidak berbohong, tidak menipu, tidak munafik, terbuka menerima dan menghargai orang lain dan diri sendiri.Rendah hati. Mengakui kerapuhan diri sendiri dan selalu mengandalkan rahmat kasih Tuhan. Tidak dengan mudah mengadili orang lain dengan bersikap menganggap diri sendiri lebih baik, lebih benar, lebih suci dari orang lain. Berdoa bagi sesama dan menolong mereka yang menderita dan bukan menghakimi dan mengadili mereka. Yesus Tuhan kita dengan tegas bersabda: ”Sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! Kataku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat kamu semua akan binasa atas cara demikian”.(Luk 13: 4-5).

Marilah berdoa,
Ya Allah yang MahaPengasih, bantulah kami umatMu dengan rahmat kasihMu agar selalu siap dan berani memperbaharui hati dan hidup kami melalui pertobatan yang sejati. Amin.



Minggu, 28 Oktober 2007
Pekan Biasa XXX
Sir 35:12-14,16-18; 2Tim 4:6-8,16-18; Luk 18:9-14
===========================================================================

MENGAKUI KELEMAHAN

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali orang sulit untuk mengakui kelemahan dan kekurangan di hadapan orang lain. Orang lebih senang menceritakan berbagai keberhasilan dan kehebatannya daripada harus menceritakan berbagai kekurangannya. Orang lebih gampang menceritakan kehebatannya karena dengannya ia mendapat pengakuan dari orang lain dibanding menceritakan kelemahan karena dengannya ia tidak diakui sebagai orang yang hebat atau orang yang berkemampuan.
Realitas serupa ini sudah terjadi sejak 2000-an tahun silam, bahkan boleh jadi sejak manusia ada. Hari ini penginjil Lukas menceritakan orang Farisi yang berdoa di hadapan Tuhan sebagai orang yang selalu berbuat baik dibandingkan pemungut cukai yang saat itu berdoa bersamanya. Orang Farisi pada zaman Yesus dikenal sebagai kaum yang sangat ketat mempertahankan hukum Taurat. Mereka berusaha melaksanakan semua yang tertulis dalam hukum Taurat tetapi tidak memperhatikan hal-hal lain yang lebih penting seperti keadilan, cinta kasih dan kesetiaan (bdk. Mat 23:23). Apa yang dilaksanakan semata-mata agar dapat dilihat orang dan mereka dapat diakui sebagai orang yang taat beragama. Lebih dari itu, mereka menganggap diri sebagai orang yang paling benar dan setia kepada hukum Taurat. Selain itu, mereka juga menganggap orang lain lebih rendah dari mereka karena berdosa dan tidak melaksanakan hukum Taurat. Singkat kata, mereka berbuat demikian agar dihormati oleh orang lain, bahkan di hadapan Allah pun mereka ingin mendapat kehormatan dan pengakuan sebagai orang suci tanpa dosa (bukan seperti pemungut cukai).
Dalam Gereja Katholik terdapat sakramen pengakuan. Sakramen pengakuan merupakan salah satu sarana pengudusan diri di hadapan Allah agar umat memperoleh keselamatan kekal. Melalui sakramen pengakuan ini umat mengakui segala kelalaian dan dosa yang telah diperbuatnya di hadapan Allah, bukan mengakui dosa yang telah diperbuat oleh orang lain. Hal ini mau menunjukkan bahwa umat katolik sebagai manusia tidak perna luput dari kesalahan dan umat mau merendahkan diri di hadapan Allah yang mahatinggi.
Selain itu, dalam ibadat atau perayaan ekaristi selalu diawali dengan pernyataan tobat. Umat bersama pemimpin upacara tersebut mengakui dosa yang telah diperbuat agar layak menghadap Tuhan untuk menyampaikan doa-doanya. Pernyataan tobat merupakan suatu kebiasaan umat merendahkan diri dan mengakui kekurangan di hadapan Allah dan sesama.
Kebiasaan mengakui kekurangan di hadapan Tuhan dan sesama merupakan bukti dari kerendahan hati manusia. Teladan kerendahan hati yang telah ditunjukkan oleh pemungut cukai merupakan contoh yang diperlihatkan oleh Yesus kepada kita sebagai pengikutNya untuk diteladani. Kita diajak untuk mampu merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama dan mengakui kekurangan yang ada pada diri kita dan yang telah kita perbuat tanpa harus mengungkapkan kekurangan orang lain karena hanya Tuhan yang berhak menentukan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.


Marilah berdoa,
Tuhan, seringkali kami berusaha menutupi kesalahan kami sendiri dan menganggap diri sebagai yang paling baik dan benar. Ajarilah kami untuk mampu merendahkan diri di hadapanMu dan sesama kami, sehingga kami mampu mengakui kekurangan yang ada pada diri kami demi keselamatan kekal. Amin.


Senin, 29 Oktober 2007
Rm 8:12-17
Luk 13:10-17
===========================================================================

WAKTU UNTUK TUHAN

Dalam kehidupan rumah tangga ada ayah, ibu dan anak-anak. Setiap anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing sesuai tugas yang mereka jalankan. Tugas yang dijalankan membutuhkan waktu dan kerapkali waktu untuk menjalankan tugas tersebut tidak selalu bersamaan sehingga waktu bersama dalam keluarga menjadi berkurang atau tidak ada. Ayah jarang bersama anak atau ibu dan sebaliknya. Hal ini tanpa sadar menimbulkan kerinduan akan perhatian dan kasih sayang satu sama lain. Seringkali kita lupa akan arti dari sebuah kebersamaan. Kebersamaan menghantar kita pada suatu ikatan persaudaraan oleh kasih sayang yang tercipta di dalamnya. Kebersamaan dalam keluarga mempererat persatuan antara ayah, ibu dan anak sehingga kerinduan akan perhatian dan kasih sayang dapat terobati.
Hari ini Yesus berbicara tentang waktu, khususnya waktu untuk bertemu dengan Tuhan. Bagi kepala rumah ibadat, hari sabat merupakan waktu khusus untuk berdoa dan tidak diperbolehkan untuk bekerja termasuk menyembuhkan orang sakit. Kepala rumah ibadat masuk dalam kelompok yang menjadi lawan yang selalu berusaha mencari kesalahan Yesus agar Ia dapat dijatuhi hukuman. Sebagai lawan Yesus, mereka berusaha mencari kesalahanNya dengan menegakkan apa yang diperintahkan dalam hukum Taurat tetapi tidak memperhatikan situasi dan aspek terpenting dari apa yang dilakukan, misalnya menyembuhkan perempuan yang sudah menderita delapan belas tahun. Yesus membandingkan perbuatanNya dengan mereka yang pada hari sabat melepaskan lembu atau keledainya dan membawanya ke tempat minuman. Di sini, Yesus mau mengatakan yang terpenting adalah keselamatan manusia. Aturan yang dibuat hendaknya mendukung karya keselamatan tersebut. Bahwa, bagi Yesus waktu untuk bertemu denganNya merupakan momen keselamatan sebagaimana yang terjadi atas diri perempuan yang telah menderita delapan belas tahun karena diikat oleh iblis.
Waktu untuk bertemu dengan Tuhan seperti halnya dalam kehidupan keluarga, antara ayah, ibu dan anak-anak saling merindukan untuk hidup bersama dan saling memberi perhatian. Kasih sayang dan perhatian dalam keluarga membawa kebahagiaan begitupun halnya dengan kerinduan akan bertemu Tuhan membawa keselamatan bagi kita seperti perempuan yang mengalami keselamatan saat bertemu Tuhan setelah delapan belas tahun diikat oleh iblis.
Sebagai orang kristen, kita memilih untuk meluangkan waktu dan tetap berada dekat dengan Tuhan atau menjauh dan membiarkan diri kita diikat oleh iblis? Sebagai keluarga kristen, memilih untuk menjaga keutuhan keluarga atau diri kita dikuasai oleh iblis yang membawa perpecahan dalam keluarga kita?

Marilah berdoa,
Tuhan, kami sering melupakan kebersamaan dalam keluarga dan tidak meluangkan waktu untuk bertemu denganMu. Tuntunlah kami agar semakin dekat denganMu dalam kebersamaan keluarga kami. Amin.


Selasa, 30 Oktober 2007
Rm 8:18-25
Luk 13:18-21
===========================================================================

YANG KECIL ITU BERTUMBUH DAN BERKEMBANG

Kuasa Allah bekerja tanpa gegap gempita. Kehadiran dan cara kerjanya pun sulit terpantau pada awalnya. Namun, kuasaNya itu meresap, mengakar dan bertumbuh. Ia bertumbuh secara perlahan-lahan tetapi pasti berkembang dan menjadi besar. Gereja Yesus Kristus pun bagaikan biji sesawi. Sejak awal ia sulit untuk dipandang tetapi ia mempunyai daya tumbuh dan berkembang yang pasti. Gereja Yesus menjadi besar karena mampu merangkul segala macam orang dari segala lapisan, suku dan golongan. Karena itu, ketika orang datang ke Gereja, ia seperti kembali ke rumahnya sendiri.
Orang menemukan damai dan suka cita dalam diri Yesus yang hadir dalam perayaan ekaristi dan dalam Sakramen Mahakudus yang ditahktakan di dalam tabernakel. Orang merasakan kehadiran Yesus yang menyambut mereka dengan penuh cinta. Setiap orang akan merasa bahagia dan damai bersama Yesus karena mereka juga mengasihi Yesus.
Mungkin pada saat ini cinta kita pada Kristus masih sebesar biji sesawi yang sedang bertumbuh dan berkembang, tampak dalam setiap aktifitas dan dalam relasi pribadi dengan sesama.
Apakah kita selalu siap akan merespons dengan penuh cinta rahmat Allah yang dicurahkan pada diri kita masing-masing?


Marilah berdoa,
Ya Tuhan, semoga kautanamkan nilai luhur Kerajaan Allah dalam hati kami yang seringkali berputus asa karena kesulitan yang kami hadapi. Semoga kami tetap bertumbuh dan menjadi semakin kuat, hingga akhirnya berbuah melimpah. Amin.


Rabu, 31 Oktober 2007
Rm 8:26-30
Luk 13:22-30
===========================================================================

HIDUP UNTUK SURGA

Pada umumnya orang-orang yang beragama bercita-cita untuk masuk surga kelak sesudah mereka meninggal dunia. Ketika Yesus ditanya tentang siapa saja yang boleh masuk surga, Ia menjawab bahwa untuk menjadi warga kerajaan surga itu bukan soal yang mudah. Orang harus mempunyai komitmen total untuk hidup hanya demi Allah dan kehendakNya. Komitmen ini diwujudkan dalam ketekunan dan kesetiaan melaksanakan tugas-tugas sehari-hari. Jalan ke surga dan menjadi warga kerajaan surga itu sangat tergantung kepada diri kita sendiri. Tak seorang pun dapat melakukan tugas-tugas kita untuk melapangkan jalan ke surga bagi kita.
Maka, hidup sebagai orang kristen adalah berjuang tanpa henti melawan godaan dan dosa. Tak ada waktu untuk santai dan kata-kata keluhan untuk berbuat baik sebab setan akan menemukan cara-cara baru untuk memangsa kita.
“Hendaklah waspada dan berjaga-jaga, sebab setan musuhmu berkeliaran seperti seekor singa yang mengaum mencari mangsa untuk ditelannya. Berdirilah teguh dalam iman sambil menyadari bahwa saudara-saudaramu yang tersebar di seluruh dunia, juga menghadapi penganiayaan yang sama” (1 Petrus 5:8-9).
Kita tak perlu takut karena Yesus bersama kita. Yesus Kristus senantiasa mendukung kita dalam perjuangan melawan setan dengan kuasa kasihNya. Santu Paulus berkata “Tak seorang pun dapat memisahkan kita dari cinta kasih Kristus” (Rm 8:9).

Marilah berdoa,
Ya Tuhan, berilah kami selalu semangat untuk mengupayakan yang terbaik dalam hidup kami. Jangan biarkan kami tergoda dan lengah oleh bujukan si jahat. Amin.